Puas Melihat Penjahat Digebukin Massa

puas-melihat-penjahat-digebukin-massa

Media sosial sekarang isinya bukan cuma foto makanan atau liburan saja. Tiap kali geser layar, pasti ada saja video yang lewat di feeds menampilkan pemandangan yang buat sebagian orang mungkin ngeri, tapi buat saya malah jadi obat stres.

Ada video maling motor, begal, atau tukang palak yang tertangkap warga lalu diberi "salam olahraga" ramai-ramai. Anehnya, melihat mereka babak belur itu rasanya ada lega yang mengalir di dada. Perasaan senang itu muncul begitu saja tanpa perlu dipanggil. Saya sampai berpikir, apa saya ini sudah jadi psikopat atau memang level muak saya terhadap kriminal sudah sampai di ubun-ubun?

Hiburan Gratis dari Layar Ponsel

Melihat penjahat digebukin massa itu sekarang jadi semacam konten yang lebih menarik daripada film aksi di bioskop. Bedanya, di sini tidak ada pemeran pengganti dan darahnya asli.

Ada kepuasan tersendiri waktu melihat begal yang tadinya gagah-gagahan bawa celurit sambil mengancam nyawa orang, tiba-tiba jadi lemas tidak berdaya waktu dikepung warga satu kampung.

Rasanya seperti melihat keadilan yang paling jujur sedang ditegakkan di depan mata tanpa perlu menunggu birokrasi yang berbelit-belit.

Kita semua tahu bagaimana rasanya cari uang susah payah. Kerja dari pagi sampai malam, kena macet, dimarahi bos, hanya untuk beli motor yang cicilannya saja belum lunas.

Lalu tiba-tiba ada orang brengsek yang mau ambil itu motor dalam hitungan detik pakai kunci T atau senjata tajam.

Jadi kalau melihat mereka kena batunya, rasa empati saya rasanya sedang cuti panjang. Saya lebih memilih kasih rasa kasihan saya buat tukang ojek yang motornya hilang daripada buat maling yang tidak punya empati.

Bukan Psikopat, Cuma Warga yang Lelah

Katanya kalau main hakim sendiri itu salah secara hukum. Saya paham, tapi teori di buku memang selalu lebih indah daripada kenyataan di aspal.

Rasa senang melihat penjahat babak belur itu bukan karena kita haus darah, tapi karena kita sudah capek dengan sistem yang sering kali tidak berpihak pada korban.

Seringnya penjahat-penjahat ini masuk penjara, lalu keluar dan melakukan hal yang sama lagi. Jadi melihat mereka kena hajaran warga itu terasa seperti hukuman yang paling instan dan memberikan efek jera yang nyata, setidaknya buat fisik mereka.

Catatan Penting: Rasa puas warga itu muncul karena rasa aman sudah jadi barang mewah yang mahal harganya di jalanan.

Berikut adalah beberapa alasan kenapa warga lebih suka lihat aksi "massa" daripada proses hukum biasa:
  • Prosesnya cepat: Tidak perlu lapor, tidak perlu saksi yang ribet, langsung dieksekusi di tempat kejadian.
  • Efek jera fisik: Luka di badan biasanya lebih diingat daripada sekadar duduk di dalam sel sambil makan gratis.
  • Solidaritas warga: Ada perasaan kompak antar tetangga saat mengejar maling yang selama ini meresahkan lingkungan mereka.
  • Penyaluran emosi: Warga yang stres karena masalah ekonomi atau tekanan hidup jadi punya sasaran yang tepat untuk meluapkan amarah pada orang yang memang pantas mendapatkannya.

Alasan Klasik yang Bikin Makin Geram

Satu hal yang paling bikin darah mendidih adalah saat penjahat yang tertangkap mulai mengeluarkan jurus andalan mereka: alasan ekonomi.

Mereka bilang terpaksa membegal karena anak belum makan atau istri sedang sakit. Itu adalah alasan paling basi yang pernah ada.

Banyak orang di luar sana yang lebih miskin, yang makan saja susah, tapi tetap memilih jadi kuli panggul atau pemulung daripada harus menodong orang di pinggir jalan.

Lucu sekali melihat mereka menangis minta ampun waktu sudah terpojok. Waktu menodong korban, mereka tidak ada sedikit pun rasa kasihan. Malah kalau korban melawan, mereka tidak segan-segan melukai atau bahkan menghilangkan nyawa.

Jadi kalau sekarang mereka yang balik menangis, ya anggap saja itu bagian dari pertunjukan yang menghibur. Jangan harap ada tisu untuk mengusap air mata maling yang sudah meresahkan warga.

Menikmati Setiap Pukulan Secara Virtual

Mungkin saya dan jutaan orang lainnya yang suka kasih like di video begal digebukin itu sebenarnya cuma orang-orang yang rindu rasa aman. Kita rindu pulang malam tanpa perlu was-was ada motor yang membuntuti dari belakang. Kita rindu menaruh tas di depan tanpa takut ada yang menjambret.

Karena rasa aman itu tidak kunjung diberikan secara maksimal oleh pihak yang berwenang, akhirnya melihat aksi massa jadi semacam terapi psikologis.

Saya tidak merasa perlu ke psikiater untuk menanyakan kesehatan mental saya hanya karena saya senang melihat begal masuk selokan setelah dikejar warga.

Itu adalah reaksi normal dari manusia yang punya akal sehat. Kita senang melihat kejahatan kalah, sesederhana itu.

Kalau mereka mau diperlakukan manusiawi, ya jadilah manusia yang tahu cara menghargai manusia lain. Selama mereka masih memilih jalan jadi sampah masyarakat, ya jangan kaget kalau warga memperlakukan mereka seperti sampah yang perlu dibuang agar tidak mengotori lagi lingkungan kita. (*)
Lebih baru Lebih lama