Satu hal yang sering bikin bingung banyak kreator baru adalah kabar bahwa video berbasis AI sudah tidak bisa dimonetisasi di YouTube. Padahal faktanya, YouTube masih membuka ruang sangat besar untuk video yang dibuat dengan bantuan AI asal tetap memenuhi unsur orisinalitas dan nilai manusia di dalamnya.
Perubahan Kebijakan Juli 2025
Mulai pertengahan Juli 2025, YouTube memperbarui kebijakan YouTube Partner Program (YPP) dan memperjelas batas antara karya kreatif berbasis AI dan konten massal tanpa sentuhan manusia.
YouTube memperketat aturan terhadap konten yang dianggap “tidak autentik”. Tapi kebijakan ini bukan larangan terhadap video AI. Tujuannya adalah mengendalikan ledakan konten otomatis yang tidak punya nilai tambah.
Jenis konten yang kini bisa kehilangan monetisasi meliputi:
- Video massal dengan pola berulang tanpa variasi berarti.
- Produksi otomatis penuh tanpa ide, narasi, atau editing manusia.
- Kompilasi visual stok dengan suara robot standar.
- Konten yang mudah direplikasi tanpa keunikan.
- Video tanpa perspektif atau nilai baru bagi penonton.
Sebaliknya, YouTube tetap memberi lampu hijau untuk:
- Video dengan narasi, analisis, atau penyuntingan oleh manusia.
- Proyek kreatif yang menggunakan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti.
- Cerita orisinal yang memanfaatkan AI dalam penulisan naskah, voice-over, atau visual.
- Animasi AI dengan pesan edukatif atau hiburan yang jelas.
Kuncinya bukan teknologi yang dipakai, melainkan seberapa besar nilai manusia yang muncul di hasil akhirnya.
Sikap Resmi YouTube terhadap AI
Dalam pernyataan resminya, YouTube menegaskan bahwa mereka menyambut kreator yang menggunakan AI untuk memperkaya cerita dan mempercepat proses produksi. Bahkan, YouTube sendiri menyediakan fitur AI seperti auto-dubbing dan Dream Screen bagi para kreator.
Rene Ritchie, Kepala Editorial & Creator Liaison YouTube, menegaskan bahwa kebijakan ini hanyalah penyesuaian kecil terhadap aturan lama yang selalu menuntut orisinalitas. Artinya, video AI tetap bisa dimonetisasi selama punya nilai kreatif dan bukan hasil salinan otomatis.
Cara Membuat Video AI yang Layak Monetisasi
Untuk kanal animasi atau video AI, beberapa prinsip utama ini wajib diterapkan agar tetap memenuhi syarat YPP:
1. Tambahkan Nilai Manusia
Kreativitas dan perspektif pribadimu harus terasa jelas. AI hanya alat bantu, bukan pengambil alih ide. Penonton ingin merasakan karakter dan cara berpikir unik di setiap video.
2. Pertahankan Keaslian Cerita
Setiap video perlu menghadirkan sudut pandang baru—baik dari alur cerita, gaya visual, atau pesan edukatif. Algoritma YouTube mampu mengenali perbedaan antara karya orisinal dan template berulang.
3. Hindari Pola Repetitif
Jangan memproduksi video dengan format yang sama berkali-kali. Reviewer manusia dan sistem deteksi otomatis kini lebih sensitif terhadap pola seragam.
4. Utamakan Kualitas Produksi
Satu video berkualitas tinggi lebih berharga daripada sepuluh video generik. Fokus pada narasi yang kuat, visual rapi, dan pengeditan yang konsisten.
5. Penuhi Syarat Monetisasi YPP
Kreator tetap perlu mencapai 1.000 subscriber dan 4.000 jam tayang (untuk video panjang) atau 10 juta tayangan Shorts dalam 90 hari terakhir agar bisa mengaktifkan iklan.
Aturan Transparansi untuk Konten AI
Sejak Maret 2024, YouTube mewajibkan kreator untuk memberi label jika ada elemen AI yang bisa menyesatkan penonton. Misalnya, penggunaan wajah tokoh publik hasil AI, suara sintetis yang meniru orang nyata, atau peristiwa fiktif yang tampak seperti berita sungguhan.
Namun, video animasi AI biasa atau visualisasi kreatif tidak termasuk kategori ini selama tidak menipu penonton.
Kesimpulan
Kabar bahwa YouTube melarang video AI hanyalah kesalahpahaman. Yang sebenarnya dilarang adalah konten dangkal tanpa ide baru. Kreator yang menggabungkan kecerdasan buatan dengan kreativitas, interpretasi pribadi, serta pengemasan yang rapi tetap bisa memperoleh pendapatan dari iklan.
AI bukan pengganti kreativitas, melainkan mitra dalam proses penciptaan. Dengan pendekatan yang seimbang antara teknologi dan sentuhan manusia, video AI justru berpotensi menjadi bentuk baru dari karya orisinal yang diminati penonton dan diakui oleh YouTube. (*)
