Cara Kerja Akinator: Bagaimana Si Jin Biru Bisa Menebak Isi Pikiranmu?

cara-kerja-akinator-bagaimana-si-jin-biru-bisa-menebak-isi-pikiranmu

Akinator adalah game tebak-tebakan yang dikemas dengan karakter jin biru. Game ini rilis sekitar tahun 2007 dan langsung viral. Di game ini kamu tinggal mikirin satu karakter, bisa orang nyata, karakter fiksi, hewan, atau bahkan benda, dan si Jin ini bakal kasih serangkaian pertanyaan buat nebak siapa yang ada di pikiran kamu.

Kerennya adalah, jawaban yang kamu berikan tidak spesifik. Hanya “Ya”, “Tidak”, “Mungkin ya”, “Mungkin tidak”, dan “Tidak Tahu”. Karena kemampuannya itu jadi seolah-olah bisa baca pikiran.

Tapi kalau kita bedah dalemannya, ini bukan soal sihir. Ini adalah aplikasi praktis dari sistem pakar dan kecerdasan buatan yang mengandalkan database raksasa hasil sumbangan jutaan pemain selama belasan tahun.

Pernah kepikiran nggak sih gimana caranya jin biru di Akinator itu bisa nebak karakter yang ada di otak kita cuma modal beberapa pertanyaan doang?

Kadang pertanyaannya nggak nyambung, tapi tiba-tiba dia munculin foto karakter yang tepat. Banyak yang bilang dia mendengar suara kita lewat mikrofon, tapi sebenernya penjelasannya jauh lebih teknis dari itu.

Ini murni soal matematika, probabilitas, dan database yang isinya jutaan data dari orang-orang sebelum kamu yang sudah memainkan game ini.


akinator

Prinsip Dasar: Pohon Keputusan

Inti dari cara kerja Akinator itu ada pada sistem yang namanya Decision Tree atau pohon keputusan. Bayangin kamu punya sejuta nama karakter di sebuah daftar besar.

Pertanyaan pertama biasanya sangat umum, seperti "Apakah karaktermu nyata?" Kalau kamu jawab "Iya," si Akinator langsung buang setengah dari daftar tadi yang isinya karakter fiksi kayak Naruto atau SpongeBob.

Dia nggak perlu mikirin itu lagi. Setiap jawaban yang kamu beri fungsinya buat memangkas daftar yang dia punya sampai sisa satu nama doang.

Tapi dia nggak cuma pakai sistem benar atau salah yang kaku. Di Akinator, ada pilihan "Mungkin Ya," "Mungkin Tidak," dan "Tidak Tahu." Di sinilah algoritma dia jadi pinter.

Dia pakai prinsip statistik yang namanya Teorema Bayes. Intinya, dia nggak mencari jawaban yang pasti 100%, tapi dia mencari siapa yang punya peluang paling besar berdasarkan jawaban-jawaban kamu.

Kalau kamu jawab "Mungkin ya" buat pertanyaan "Apakah karaktermu berambut gondrong?", dia nggak bakal langsung hapus semua karakter berambut pendek, tapi dia bakal menurunkan skor buat karakter-karakter itu dan naikin skor buat karakter yang memang punya atribut rambut panjang di databasenya.

Bagaimana Caranya Dia Belajar?

Kenapa dia bisa tahu karakter yang aneh-aneh atau yang baru viral? Karena Akinator itu sistem yang belajar sendiri, alias machine learning.

Setiap kali ada orang yang main dan Akinator gagal nebak, dia bakal nanya, "Siapa karakter yang kamu maksud?" Pas kamu ketik namanya, semua jawaban yang kamu beri dari pertanyaan pertama sampai terakhir bakal ditempel ke nama karakter baru itu.

Jadi kalau besok ada orang lain yang memikirkan karakter yang sama dan memberi jawaban yang mirip kayak kamu, Akinator sudah punya referensinya. Dia jadi makin pinter karena kontribusi dari jutaan pemain tiap harinya.

Satu hal yang sering bikin orang bingung itu urutan pertanyaannya. Kadang pertanyaannya spesifik banget di awal, terus tiba-tiba balik jadi umum lagi.

Itu terjadi karena si algoritma lagi bingung atau ada konflik data. Misalnya, kamu jawab "Iya" buat karakter laki-laki, tapi terus jawab "Iya" buat karakter yang pakai rok. Algoritmanya bakal menghitung ulang, mencari karakter cowok mana yang pakai rok.

Kalau dia nggak nemu yang skornya tinggi, dia bakal lempar pertanyaan acak lagi buat mencari pola baru. Dia selalu mencari pertanyaan yang punya "nilai informasi" paling tinggi. Artinya pertanyaan yang kalau dijawab bakal bisa membuang paling banyak kandidat dalam sekali jalan.

Kekuatan Database dan Atribut

Kamu mungkin merasa dia kayak baca pikiran waktu dia menanyakan hal yang spesifik, seperti "Apakah karaktermu pernah tinggal di dalam nanas?"

Padahal itu cuma hasil dari eliminasi sebelumnya. Kalau sebelumnya kamu sudah bilang dia kuning, tinggal di laut, dan pakai celana kotak, ya pilihan yang tersisa tinggal sedikit. Pertanyaan soal nanas itu cuma buat konfirmasi terakhir sebelum dia memberikan jawaban SpongeBob.

Dia beneran nggak tahu kamu mikir apa, dia cuma mengerucutkan kemungkinan berdasarkan data statistik yang dia kumpulkan selama bertahun-tahun.

Database Akinator itu besar sekali. Isinya bukan cuma nama, tapi hubungan antara nama itu dengan ribuan atribut. Atribut ini bentuknya poin.

Misalnya, karakter "Luffy" dari One Piece mungkin punya poin 99 di atribut "pakai topi jerami" dan poin 0 di atribut "bisa terbang."

Pas kamu jawab "Iya" buat topi jerami, skor Luffy melonjak naik di sistem dia. Makin sering orang mainin satu karakter, data atributnya makin akurat karena diambil dari rata-rata jawaban banyak orang.

Kalau ada orang iseng yang sengaja memberi jawaban salah, nggak bakal langsung merusak sistem karena algoritma ini mengambil suara mayoritas.

Kalau 1.000 orang bilang Luffy itu cowok dan 1 orang bilang cewek, Akinator tetap bakal percaya kalau Luffy itu cowok.

Cara Mengalahkan Si Jin Biru

Kalau kamu pengen mengalahkan Akinator, cara paling ampuh bukan dengan memberikan jawaban salah. Karena kalau kamu bohong, polanya jadi berantakan dan dia bakal terus-terusan nanya sampai limit pertanyaannya habis.

Cara mengalahkannya adalah dengan memikirkan karakter yang sangat sangat langka, yang mungkin baru muncul di satu episode kartun jadul atau tokoh sejarah yang nggak populer.

Di situ, databasenya mungkin belum punya cukup data poin buat mengerucutkan pilihan. Tapi begitu kamu kasih tahu jawabannya di akhir, ya kamu baru saja membantu dia jadi lebih pinter buat pemain berikutnya.

Jadi sebenernya nggak ada jin, nggak ada sihir, dan nggak ada mata-mata di balik layar. Akinator itu cuma mesin hitung raksasa yang pinter banget nanya.

Dia kerja pakai logika yang sama seperti kita kalau lagi main tebak-tebakan, bedanya dia punya memori yang nggak terbatas dan bisa akses data dari jutaan orang dalam hitungan milidetik.

Dia cuma memindahkan kemungkinan dari yang tadinya jutaan jadi satu, lewat proses eliminasi yang didorong oleh statistik probabilitas.

Sesederhana itu prosesnya, tapi karena dilakukan dengan sangat cepat, kesannya jadi kayak dia beneran bisa baca apa yang ada di kepala kita. (*)
Lebih baru Lebih lama