Nyawa Laki-Laki Seolah Tidak Penting di Usulan Menteri PPPA

Kenapa Nyawa Laki-Laki Seolah Tidak Penting di Usulan Menteri PPPA

Saya baru saja membaca soal usulan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) yang mau memindahkan gerbong khusus perempuan ke tengah rangkaian kereta. Alasannya biar lebih aman kalau ada kecelakaan di bagian depan atau belakang.

Kedengarannya sih perhatian, tapi kalau dipikir pakai logika, ini ide yang luar biasa... ANEH!.

Menteri PPPA Usul Gerbong Wanita Dipindah ke Tengah

Logika yang Terbalik

Begini, lho bu. Masalah utamanya itu kan keselamatan transportasi secara umum, ya? Harusnya yang dibahas itu bagaimana caranya supaya tidak ada lagi kecelakaan di perlintasan sebidang, atau bagaimana sistem persinyalan kita biar lebih canggih. Eh, ini malah fokusnya ke posisi gerbong.

Seolah-olah kalau gerbong perempuan ditaruh di tengah, masalah selesai. Lah, terus jadi kesannya nyawa laki-laki nggak berharga atau lebih kuat jika terjadi kecelakaan? Apa lak-laki kalau kecelakaan cuma kerasa geli-geli aja gitu?

Ini beneran diskriminatif, sih. Semua nyawa itu berharga, nggak peduli apa jenis kelaminnya. Bapak dan suaminya juga laki-laki kan, apa mereka nggak penting? Lucu sekali kalau mitigasi bencana cuma sekadar geser-geser posisi gerbong penumpang.

Berarti kalau besok-besok seandainya ada kejadian yang menimpa gerbong khusus perempuan yang berada di tengah (amit-amit jabang bayi…jangan sampe ya), mau dipindah ke mana lagi?

Kenapa Gerbong Khusus Harus di Ujung?

Logikanya sebenarnya simpel. Efisiensi. Dengan menaruhnya di ujung, alur penumpang jadi lebih teratur.
  • Aksesibilitas dan Keamanan: Posisi di ujung memudahkan petugas stasiun buat mengawasi siapa saja yang masuk. Kalau ada laki-laki yang "nyasar" masuk, ketahuannya cepat.
  • Konsistensi: Penumpang nggak perlu bingung cari-cari posisi gerbong tiap kali pindah peron. Kasihan ibu-ibu hamil atau lansia kalau harus jalan jauh ke tengah. Mereka sudah tahu kalau mau naik gerbong khusus, ya larinya ke arah ujung peron.
  • Tidak Memutus Arus: Ini poin paling krusial yang sering dilupakan. Gerbong di ujung itu nggak bakal menghalangi orang yang mau jalan dari satu gerbong ke gerbong lain di dalam kereta. Kalau gerbong khusus wanita ditaruh di tengah-tengah, otomatis gerbong umum di depan dan belakang jadi terpisah total. Laki-laki yang mau pindah dari gerbong 2 ke gerbong 6 nggak akan bisa lewat karena ada "tembok" gerbong khusus di tengah. Ini bakal bikin penumpukan penumpang yang makin parah di jam sibuk.

Usulan pindah ke tengah seperti ini malah memicu perdebatan nggak penting antar gender. Bukannya fokus memperbaiki layanan publik buat semua orang, malah bikin narasi yang memisahkan "keamanan perempuan" dan "keamanan laki-laki". Padahal kita semua pengennya aman, titik. Tanpa tapi.

Formasi gerbong kereta sebetulnya sudah punya standar internasional. Di Jepang aja yang jadi kiblat perkeretaapian Indonesia, gerbong khusus wanita ditaruh di ujung. Ada alasannya, bukan asal taruh. 

Mungkin ibu Menteri perlu sekali-kali coba naik KRL pas jam pulang kantor deh.
Lebih baru Lebih lama