Modus Baru Cari Cuan Lewat Acara Halal Bihalal

Bisnis Berkedok Silaturahmi

Kejadian di lingkungan rumah belakangan ini benar-benar membuat saya harus menarik napas panjang. Kegiatan halal bihalal yang seharusnya penuh maaf dan kehangatan justru berubah jadi ajang hitung-hitungan modal.

Di lingkungan saya ada yang dengan semangat mengumumkan mengadakan acara halal bihalal di rumahnya. Dalam benak saya, ini adalah inisiatif mulia dari warga yang ingin mempererat kerukunan antar tetangga.

Namun, semangat itu langsung luntur begitu tahu syaratnya. Ternyata setiap warga yang mau datang ke rumah tersebut wajib membayar iuran dengan nominal yang sudah dipatok oleh si tuan rumah.

Fenomena ini terasa sangat janggal di telinga saya. Esensi dari mengundang orang ke rumah adalah bentuk penghormatan dan keinginan untuk berbagi kebahagiaan.

Jika memang anggaran terbatas, mengusung konsep potluck atau membawa makanan masing-masing secara sukarela tentu jauh lebih masuk akal dan terasa tulus.

Menetapkan tarif tertentu untuk sebuah kunjungan silaturahmi justru membuat acara tersebut kehilangan kesakralannya. Hubungan antar tetangga yang seharusnya organik kini berubah fungsi menjadi hubungan antara penjual jasa dan pembeli.

Logika Makan-Makan yang Tidak Ketemu

Hal yang paling menyesakkan adalah saat melihat kenyataan di lapangan. Menu makanan yang disajikan ternyata sangat sederhana, bahkan jauh dari kata sebanding dengan uang yang telah disetorkan oleh para tamu.

Saya melihat ada ketimpangan nyata antara biaya iuran dengan yang didapatkan. Di titik ini, sulit bagi saya untuk tidak berpikir bahwa penyelenggara memang berniat mencari keuntungan finansial dari acara tersebut. Sebut saja ini strategi "ambil cuan" di tengah momen religi.

Ketika sebuah undangan silaturahmi sudah memiliki target profit, maka nilai kekeluargaan otomatis tergeser oleh logika bisnis. Saya merasa kasihan pada warga yang keuangannya terbatas tapi merasa tidak enak hati jika tidak hadir, namun di sisi lain mereka merasa diperas secara halus. Praktik mematok harga untuk acara lingkungan bukan hanya tidak etis, tapi juga menciptakan sekat sosial yang baru.

Modus Penutupan Pengajian yang Serupa

Praktik semacam ini bukan hal baru di tempat saya. Jauh sebelum Ramadan tiba, pola yang mirip sudah sering terjadi dalam agenda penutupan pengajian. Modusnya hampir selalu sama, yaitu mewajibkan peserta menyetor sejumlah uang yang katanya akan dikelola untuk kepentingan bersama.

Peserta akan mendapatkan paket sembako sebagai buah tangan setelah acara selesai.

Setelah saya hitung secara kasar, harga paket sembako yang diterima sebenarnya tidak sesuai dengan total uang yang mereka bayarkan. Penyelenggara seolah menjadi "broker" dadakan yang memotong margin keuntungan di setiap paketnya. Ironisnya hal ini dilakukan dalam lingkaran kegiatan ibadah.

Saya sering bertanya-tanya dalam hati, mengapa momen spiritual harus selalu dibenturkan dengan kepentingan ekonomi sempit seperti ini. Praktik ini sangat merugikan bagi mereka yang memiliki kondisi keuangan terbatas namun merasa terpaksa ikut demi menjaga hubungan sosial.

Pentingnya Ketulusan dalam Bermasyarakat

Kunci utama dalam hidup bertetangga adalah ketulusan tanpa embel-embel kepentingan pribadi. Saya percaya bahwa silaturahmi yang sehat tidak butuh biaya pendaftaran yang kaku.

Jika memang ingin berbagi, berbagilah sesuai kemampuan tanpa membebani orang lain. Sebaliknya, jika merasa tidak sanggup menjamu banyak orang, mengadakan pertemuan sederhana di balai warga dengan membawa camilan seadanya justru jauh lebih terhormat daripada memungut biaya di rumah sendiri.

Kembalikan fungsi halal bihalal dan pengajian ke jalur yang benar. Jangan sampai kegiatan yang tujuannya mencari pahala dan mempererat persaudaraan malah berubah menjadi ladang bisnis yang meresahkan.

Menjaga Warisan Budaya Silaturahmi

Budaya kita sangat menjunjung tinggi nilai keramahtamahan. Orang tua kita dulu sering mengajarkan bahwa tamu adalah pembawa rezeki. Sangat menyedihkan jika sekarang tamu justru dianggap sebagai sumber pendapatan tambahan.

Undangan ke rumah tetangga berarti obrolan hangat tanpa perlu memikirkan apakah uang yang saya bayar tadi sudah "balik modal" atau belum melalui makanan yang tersedia di meja.

Bersikap selektiflah terhadap undangan-undangan berbayar seperti ini. Kita harus berani mengatakan tidak jika sebuah ajakan silaturahmi sudah terasa transaksional. Dengan begitu, kita secara tidak langsung memberikan pelajaran bahwa hubungan manusia tidak bisa dinilai dengan uang.  (*)

Lebih baru Lebih lama