Pernah lihat kan berita petani buang-buang sayur ke sungai atau peternak menumpahkan susu ke jalan
gara-gara harga jualnya jatuh, jauh lebih rendah dari harga pasar?
Reaksi kita hampir selalu sama. Ada yang bilang itu perbuatan dosa, mubazir, dan
nggak masuk akal. Daripada dibuang, kenapa nggak kasih aja ke orang yang butuh, ke panti asuhan, bagi-bagi ke
tetangga, atau kirim ke daerah yang kelaparan. Kelihatannya gampang, tapi
kenyataannya ekonomi pertanian itu kejam dan nggak punya perasaan.
Alasan
petani melakukan itu biasanya bukan karena mereka sombong atau tidak punya
empati, tapi karena mereka sudah terjepit dalam hitung-hitungan yang mustahil
untuk dimenangkan.
Jebakan Biaya Panen dan Transportasi
Kita harus
paham kalau menanam itu satu urusan, tapi panen itu urusan lain lagi yang butuh
modal baru. Sewaktu sayuran sudah siap petik di ladang, biaya yang sudah
dikeluarkan selama berbulan-bulan seperti bibit, pupuk, dan tenaga kerja itu sudah dianggap biaya yang hilang
dan nggak akan balik dalam waktu dekat.
Masalahnya,
untuk memindahkan sayur dari ladang ke tangan konsumen, petani harus keluar duit lagi.
Contoh, misalnya harga kol jatuh sampai Rp2.000 per kilogram di pasar. Untuk panen
satu hektar, si petani harus bayar buruh. Dia harus beli karung atau peti, sewa truk buat bawa itu ke pasar.
Kalau ditotal, biaya buat panen dan transportasi itu mungkin setara
dengan harga Rp5.000 per kilogram.
Kalau dia
tetap memaksakan panennya untuk dijual, dia rugi tambahan Rp3.000 per kilogram di luar kerugian
tanamnya.
Kalau dia
panen cuma buat dibagikan gratis, dia tetap harus menanggung biaya buruh dan
transportasi tadi. Uangnya dari mana? Dia sudah rugi di biaya tanam, sekarang
disuruh keluar duit lagi untuk biaya operasional sedekah secara massal.
Itu bukan
lagi soal baik hati, tapi soal memilih antara bangkrut sekarang atau bangkrut
lebih parah lagi.
Skala Produksi yang Terlalu Besar
Banyak orang
menyarankan agar petani memanen sendiri saja supaya tidak usah bayar buruh.
Masalahnya, skala pertanian itu sangat besar. Satu orang atau satu keluarga
nggak mungkin sanggup memanen berton-ton tomat atau mencabut ribuan batang sawi
dalam satu atau dua hari sebelum produknya busuk.
Tanaman
punya masa kedaluwarsa alami yang sangat singkat begitu sudah matang. Tanaman
butuh tangan banyak untuk dipetik dengan cepat, dan orang banyak itu butuh
makan serta upah harian.
Jadi
membiarkan produk itu membusuk di pohon atau membuangnya sebenarnya adalah cara
paling masuk akal untuk membatasi kerugian. Lebih baik berhenti di titik itu
daripada menambah utang baru untuk biaya panen yang nilainya tidak tertutup
oleh harga jual.
Permintaan yang Tidak Bisa Dipaksa
Lalu ada
masalah sifat produk pertanian itu sendiri dalam hal permintaan. Saya beri perbandingan ya. Kalau seandainya
harga iPhone anjlok 80%, orang yang tadinya tidak
berniat beli malah jadi beli, atau yang sudah punya malah beli tiga lagi untuk cadangan.
Tapi kalau
harga sawi turun 90%, apa kamu mau nyetok di rumah dan makan sawi melulu tiga kali sehari selama sebulan?
Tentu tidak.
Sebanyak apa
pun barang yang dibuang ke pasar dengan harga murah, kalau orang sudah merasa
cukup, mereka nggak akan beli lagi.
Permintaan
barang kebutuhan dapur itu cenderung stabil dan tidak bisa dipaksa naik drastis
hanya karena harganya murah sekali.
Inilah yang
membuat harga bisa hancur sampai ke titik nol atau bahkan minus. Pasokan
meledak karena panen raya bersamaan, tapi konsumen hanya butuh jumlah yang sama
seperti hari-hari biasanya.
Dilema Sedekah dan Kelangsungan Pasar
Soal
membagikan hasil panen secara gratis atau sedekah, ada risiko ekonomi lokal
yang jarang disadari orang kota.
Dalam bisnis, membagi-bagikan barang secara cuma-cuma dalam jumlah yang
sangat besar di waktu yang salah bisa merusak ekosistem pedagang itu sendiri.
Kalau
seorang petani membagikan 5 ton tomat gratis ke warga dalam satu kecamatan,
maka besoknya pedagang sayur keliling atau warung sayur di pasar lokal nggak akan bisa
jualan tomat. Kenapa? Karena semua orang sudah punya stok tomat gratis di
rumahnya. Pedagang kecil yang biasanya mengambil untung tipis dari berjualan tomat jadi nggak bisa
jualan tomat.
Dengan
membuang barang, petani sebenarnya sedang berusaha "mengosongkan"
pasar agar stok yang tersisa, mungkin milik temannya atau panennya minggu depan, bisa punya nilai lagi. Kalau semuanya
digratiskan, nilai barang itu akan hancur karena ekspektasi pembeli sudah
rusak.
Masalah Logistik di Negara Kepulauan
Kita juga
sering lupa kalau Indonesia itu luas dan infrastruktur distribusinya belum merata. Sayuran adalah barang
yang sangat cepat rusak.
Kalau di
satu daerah panen melimpah sampai harga jatuh, sementara di pulau sebelah
harganya mahal, solusinya bukan sekadar kirim ke sana. Biaya kirim menggunakan
kapal atau pesawat itu mahal sekali.
Sering kali,
ongkos kirim antarpulau jauh lebih mahal daripada nilai sayuran itu sendiri.
Tanpa sistem pendingin yang mumpuni, kemungkinan besar sayur itu sudah busuk
sebelum sampai ke tangan konsumen. Akhirnya membuang produk di lokasi
panen menjadi pilihan yang paling efisien secara matematis, meskipun secara
moral terasa menyakitkan.
Jadi saat
kita melihat video petani membuang hasil buminya, itu adalah ekspresi
keputusasaan. Mereka lebih memilih melihat hasil jerih payahnya kembali menjadi
tanah daripada harus membuang lebih banyak uang yang sebenarnya sudah tidak
mereka miliki lagi.
Ini adalah
mekanisme pertahanan hidup yang paling dasar di tengah sistem distribusi yang
belum berpihak pada mereka. (*)
