
Di Kompas.com ada artikel berjudul “Indonesia Disebut Aman jika Perang Dunia 3 Meletus, Ini 4 Alasannya”. Di artikel itu dijelaskan bahwa Indonesia aman karena kita netral, nggak punya nuklir, dan kondisi geografisnya mendukung.
Tapi itu cara pandang jadul yang dipaksa masuk ke tahun 2026. Dunia sudah berubah total, apalagi setelah kejadian di Iran baru-baru ini.Coba kita pakai logika yang lebih realistis. Kita nggak usah ngomongin rudalnya AS-Israel atau Iran jatuh di tanah Indonesia, karena kemungkinannya memang kecil.
Yang harusnya kita takutkan itu bukan ledakan, tapi kondisi di mana kita nggak bisa masak, nggak bisa kerja karena harga BBM dan harga barang naik berlipat-lipat.
Ilusi Stok BBM
Indonesia minyaknya masih impor. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia jelaskan stok BBM Indonesia hanya 25 hari. Walaupun beliau mengatakan 25 hari itu adalah karena kapasitas penyimpanan stok BBM Indonesia maksimalnya memang segitu, bukan karena stoknya tinggal 25 hari.Ketika Iran memutuskan menutup Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan kemarin, jalur minyak dunia macet total. Harga minyak mentah mulai melambung.
Seandainya bensin langka, distribusi barang dan makanan antar pulau macet. Truk nggak jalan, kapal logistik berhenti. Jadi meskipun nggak ada rudal yang jatuh di sini, ekonomi kita bisa terganggu.
Contoh nyata: imbas dari pernyataan Menteri ESDM, di Takengon Aceh sudah ada panic buying BBM. Masyarakat sana sudah antre beli BBM. Padahal belum ada seminggu semenjak Menteri ESDM mengeluarkan pernyataan itu.
Jebakan Politik Luar Negeri
Kemudian soal politik "Bebas Aktif" yang selalu dibangga-banggakan. Sekarang tahun 2026, dan posisi kita sebenarnya sudah nggak senetral dulu.Sejak Indonesia gabung ke Board of War Peace (BoP) dengan Amerika dan Israel, kita itu sebenarnya sudah memilih kubu, cuma aja nggak mau ngaku terang-terangan.
Makanya waktu Indonesia menawarkan diri untuk menjadi mediator antara Iran dan AS, pihak Iran menolaknya.
Kerentanan Digital yang Nyata
Belum lagi soal ketergantungan kita dengan teknologi asing. Kita ini sekarang hidup di era di mana semuanya serba digital.Kalau kabel bawah laut diputus atau satelit diganggu karena PD III, sistem kita bakal chaos. Kamu nggak bakal bisa narik duit di ATM, nggak bisa Internetan. Di saat itulah kita sadar kalau geografis Indonesia yang jauh dari pusat perang itu nggak ada gunanya sama sekali. Jarak itu nggak pengaruh dalam urusan siber.
Kedaulatan yang Tergadai
Ada lagi soal perjanjian dagang dengan Amerika. Indonesia terpaksa tanda tangan supaya barang-barang dari Indonesia nggak kena tarif 32% yang gila-gilaan itu. Tapi imbalannya, Indonesia nggak boleh berdagang dengan negara yang dianggap musuh oleh AS.Jadi sebenarnya kedaulatan kita itu sudah tergadaikan secara ekonomi. Kita "aman" karena kita nurut, bukan karena kita kuat.
Indonesia Tetap Tidak Aman
Intinya begini, kalau PD III benar terjadi, Indonesia memang aman dari rudal. Tapi di tahun 2026 ini, konsep keamanan itu sudah bergeser. Aman itu bukan berarti nggak ada ledakan di atas kepala kita. Aman itu artinya sistem distribusi pangan tetap jalan, harga barang nggak melonjak liar, dan jalur komunikasi tetap nyala.Begitu sistem global terbakar karena perang, Indonesia yang sangat bergantung dengan rantai pasok dunia ini bakal ikut merasakan efeknya, mau kita tinggal di pelosok manapun.
Jadi jangan cuma lihat letaknya, tapi lihat isi dapur dan dompet kamu. Keamanan sejati itu ada di kemandirian pangan dan energi, dua hal yang sampai detik ini masih jadi PR besar buat kita.
Dunia sedang tidak baik-baik saja, dan kita ada di tengah-tengah badai itu, entah kita menyadari atau tidak. (*)
Tags:
Geopolitik Indonesia 2026
Keamanan Siber Indonesia
Ketahanan Energi Nasional
Krisis Ekonomi Global
Perang Dunia
Stok BBM Nasional