Pemerintah
lagi ada rencana untuk menerapkan WFH wajib satu hari buat PNS, dam menyarankan sektor swasta untuk
ikutan. Katanya ini
langkah taktis biar konsumsi BBM nasional bisa turun sampai 20% gara-gara
krisis energi dunia akibat perang AS/Israel-Iran.
Secara ekonomi makro mungkin terdengar keren, kalau kita ngomongin nasib orang
kecil yang kerja di lapangan atau di kantor tiap hari, ceritanya bakal beda.
Hitung-hitungan yang Sebenarnya
Ketika diminta WFH, yang pertama kali kepikiran pasti "Asik, hemat
bensin" atau "Nggak usah beli makan siang di kantin." Memang benar, kalau kita
nggak berangkat ke kantor, pengeluaran buat kendaraan otomatis kepotong.
Tapi
masalahnya, buat yang tinggalnya nggak jauh-jauh amat dari kantor, penghematan
bensin itu sebenarnya tipis banget kalau dibandingkan dengan biaya baru yang muncul di rumah.
Waktu kita WFH
selama delapan jam atau
lebih, itu artinya komputer nyala seharian, dan yang paling berasa itu AC atau kipas
angin nggak bakal mati karena Jakarta panasnya bukan main. Belum lagi kuota
internet.
Kalau di
kantor kan kita pakai fasilitas kantor, nah di rumah kita harus modal sendiri.
Jadi ujung-ujungnya uang yang tadinya buat bensin cuma pindah aja ke tagihan listrik
sama paket data. Buat yang gajinya pas-pasan, ini bukan penghematan, cuma memindahkan beban aja dari jalan ke rumah.
Soal Mental dan Produktivitas
Jika kebijakan ini diterapkan, saya berharap hari WFH itu ditaruh di tengah
minggu, misalnya hari Rabu. Biar ritme capeknya itu nggak numpuk. Senin - Selasa gas pol di kantor, Rabu
istirahat sebentar di rumah sambil tetap kerja, terus Kamis - Jumat masuk lagi. Ini membantu banget buat isi ulang tenaga
biar nggak burnout.
Tapi ada
satu hal yang sering dilupakan. Nggak semua rumah di Jakarta itu nyaman buat jadi tempat
kerja. Banyak yang masih tinggal di kontrakan sempit, kost atau rumah yang rame banget.
Kalau disuruh
WFH tapi lingkungannya nggak mendukung, yang ada malah stres sendiri karena kerjaan
nggak kelar-kelar tapi gangguan banyak banget. Ini yang kayaknya belum masuk
dalam pertimbangan pemerintah sewaktu bikin aturan.
Jebakan Macet
Nah, ini
bagian yang paling bikin ragu. Pemerintah berharap kalau banyak orang di rumah,
jalanan bakal sepi dan BBM bakal irit.
Tapi di
Jakarta, hukum jalanan itu beda. Ada istilah namanya "permintaan yang
muncul sendiri" atau induced demand.
Logikanya begini: Misalnya
WFH satu hari ditetapkan hari Rabu. orang-orang yang tidak WFH akan
menganggap jalanan lagi
sepi tiap Rabu. Mereka yang tadinya biasa naik transportasi
publik bakal memilih
menggunakan kendaraan
pribadinya. Mereka bakal merasa "Mumpung jalanan kosong, mending bawa kendaraan
sendiri biar cepet."
Akhirnya
jalanan yang tadinya kosong bakal penuh lagi. Target menurunkan konsumsi BBM 20% itu cuma bagus di
atas kertas doang.
Kesimpulan yang Mengganjal
Intinya,
kebijakan ini jangan cuma dilihat dari angka-angka penghematan bensin skala
nasional aja. Buat kita yang kerja, ini adalah urusan manajemen hidup yang ribet.
Ada biaya
yang kelihatan hilang (bensin), tapi ada biaya tersembunyi yang naik (listrik
dan internet). Belum lagi soal disiplin kerja yang bisa berantakan kalau nggak
siap.
Jangan
sampai tujuannya buat menyelamatkan negara dari krisis energi, tapi malah bikin dompet pekerja
bergaji UMR makin tipis
gara-gara bayar token listrik tiap minggu.
Kalau cuma sekadar saran buat pihak swasta, saya yakin banyak bos yang bakal enggan menerapkan WFH karena mereka tetep pengen lihat karyawannya duduk di depan meja kantor biar bisa diawasi langsung. (*)
