Memperbaiki Diri Tanpa Validasi di Bulan Suci

berdoa

Setiap kali Ramadan datang, perasaan saya selalu campur aduk. Ada senangnya, tapi ada juga rasa bersalah yang tiba-tiba muncul. Saya rasa banyak orang merasakan hal yang sama, meski mungkin tidak semua mau mengakuinya secara terbuka.

Ramadan tahun ini, saya tidak ingin muluk-muluk dengan target yang terdengar hebat di telinga orang lain. Saya lebih ingin duduk tenang dan bicara pada diri sendiri. Ada banyak hal yang berantakan di dalam sini, di dalam pikiran dan hati saya, yang perlu dirapikan pelan-pelan.

Tapi saya tidak akan membuat daftar panjang di sini tentang apa saja dosa atau kekurangan yang mau saya ubah. Menurut saya, rencana perbaikan diri itu adalah wilayah yang sangat privat. Itu urusan saya dengan Tuhan, dan memamerkannya ke publik malah seringkali terasa seperti beban tambahan yang tidak perlu.

Antara Harapan dan Realita

Seringkali kita merasa harus tampil sempurna saat Ramadan tiba. Harus terlihat paling religius, paling rajin ke masjid, atau paling banyak bacaannya. Tapi saya lebih suka melihat Ramadan sebagai momen untuk jujur.

Saya mencoba untuk tidak menjadi orang yang munafik. Saya tidak mau pura-pura sudah jadi orang suci hanya karena bulan puasa datang.

Saya tetap saya, manusia yang banyak cacatnya, yang sedang mencoba memperbaiki satu atau dua hal yang menurut saya paling krusial. Perbaikan ini bukan untuk konten, bukan supaya dibilang sholeh oleh orang lain, tapi murni untuk sejenak ke jalur yang benar.

Mengatur Ulang Prioritas Tanpa Publikasi

Saya perhatikan, orang sangat gemar berbagi rencana ibadah mereka. "Tahun ini saya mau khatam sekian kali," atau "Saya mau sedekah di sini dan di situ."

Tidak ada yang salah dengan itu kalau tujuannya memotivasi, tapi buat saya pribadi, cara itu terasa kurang cocok. Semakin banyak saya bicara ke orang lain tentang apa yang mau saya perbaiki, semakin besar kemungkinan saya melakukannya hanya demi validasi manusia.

Jadi saya memilih untuk diam. Ada beberapa hal spesifik yang ingin saya benahi. Hal-hal kecil yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain, tapi saya tahu betul di sanalah letak kebocorannya.

Memperbaiki hal-hal privat ini rasanya lebih tulus karena tidak ada penontonnya. Hanya saya yang tahu, dan tentu saja Tuhan yang melihat prosesnya.

Kadang, perbaikan yang paling sulit itu bukan soal ibadah yang sifatnya fisik, tapi soal mengatur ego. Mencoba untuk lebih rendah hati dan sadar posisi saya sebagai hamba. Tanpa harus diumumkan, tanpa harus terlihat paling sibuk beribadah.

Menjalani Proses yang Tidak Sempurna

Saya tidak berharap bisa berubah seratus persen dalam semalam. Itu tidak realistis dan cenderung membuat kita cepat menyerah saat gagal di tengah jalan. Saya tahu akan ada hari-hari di mana saya mungkin merasa malas atau kembali ke kebiasaan lama. Tapi itulah gunanya Ramadan selama sebulan penuh; sebuah ruang untuk latihan dan jatuh bangun.

Saya ingin menjalani hari-hari puasa dengan kesadaran penuh, bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Tidak perlu ada yang tahu berapa lama saya berdoa atau apa saja yang saya minta dalam doa.

Keindahan dari hubungan antara manusia dan Tuhan adalah sifatnya yang sangat rahasia. Ada kenyamanan tersendiri saat kita menyimpan rencana besar perbaikan diri itu untuk diri sendiri. Itu membuat setiap langkah kecil yang berhasil kita ambil terasa lebih berharga dan jujur.

Tidak ada tekanan untuk terlihat konsisten di depan mata orang, yang ada hanya usaha jujur untuk menjadi lebih baik dari hari kemarin.

Apapun yang ingin saya perbaiki, biarlah itu menjadi rahasia indah yang saya bawa dalam doa. Semoga tahun ini, perubahan itu benar-benar terjadi dari dalam, bukan cuma polesan di luar saja. (*)

Lebih baru Lebih lama