Melawan Kepalsuan Musik Era Digital Lewat Semangat MTV Unplugged

mtv unplugged

Saya nggak ngomong begini cuma karena kangen masa lalu atau pengen nostalgia semata. Ada alasan yang jauh lebih mendalam kenapa format acara ini harus ada lagi di tengah industri musik kita sekarang.

Kejujuran di Tengah Gempuran Visual

Dulu, waktu MTV Unplugged pertama kali muncul tahun 1989, dunia musik sedang di puncak kejayaan visual. MTV itu pusatnya budaya pop. Semuanya soal video klip yang mahal, efek yang heboh, baju yang nyentrik, dan pokoknya semua yang serba dipoles biar kelihatan sempurna di layar kaca. 

Musisi mulai pelan-pelan berubah jadi brand. Nah, di tengah kompetisi visual yang gila-gilaan itu, Unplugged datang bawa sesuatu yang berani banget. Mereka justru buang semua elemen yang bikin MTV jadi besar.

Nggak ada panggung raksasa yang lampunya kelap-kelip, nggak ada tumpukan speaker yang suaranya memekakkan telinga, dan yang paling penting, nggak ada lipsync

Intinya cuma satu: kalau semua pernak-pernik itu dicopot, apakah lagunya masih enak didengar? Apakah si musisinya memang benar-benar jago?

Ujian Nyata Seorang Musisi

Unplugged bukan cuma sekadar tontonan, tapi semacam ujian kejujuran. Ini tempat buat memisahkan mana musisi yang cuma mengandalkan desain suara dan polesan studio, dengan musisi yang memang paham cara nulis lagu, cara mengatur nada, dan cara menyampaikan emosi. 

Unplugged memaksa musisi buat mengulik ulang karya mereka sendiri. Mereka harus berhadapan sama lagu ciptaannya dalam kondisi yang paling telanjang dan tanpa perlindungan.

Saat Akustik Mengubah Sejarah

Ambil contoh Eric Clapton Unplugged yang tayang 1992. Penampilannya di sana mengubah cara orang melihat lagu-lagu dia. Versi akustik dari "Layla" malah jadi versi yang dianggap paling paten dibanding versi aslinya yang pakai gitar elektrik. 


Ini membuktikan kalau mengaransemen ulang sebuah lagu itu bisa jadi bentuk evolusi, bukan malah bikin lagunya jadi terasa kurang atau loyo.

Lalu ada Nirvana di tahun 1993. Waktu itu mereka lagi di puncak genre grunge yang identik dengan suara gitar berisik dan teriak-teriak. 

Tapi waktu Unplugged, mereka malah nggak bawain lagu-lagu hits yang paling berisik. Mereka bikin semuanya jadi lambat. Mereka menunjukkan sisi yang rapuh. Di situ semua orang sadar kalau musik mereka itu bukan cuma soal distorsi, tapi soal penulisan lagu yang jujur banget. 


Bahkan musisi seperti Lauryn Hill atau Jay-Z juga membuktikan kalau hip-hop dan soul itu tetap punya kekuatan besar tanpa perlu dentuman beat yang canggih atau produksi yang licin. Cuma butuh kejujuran yang mentah.

Kebutuhan Kita Akan Musik yang Manusiawi

Dulu, Unplugged itu berhasil mengatur ulang apa yang berharga dalam musik. Lagu jadi lebih penting daripada sekadar bunyi-bunyian. Aksi panggung yang apa adanya jadi lebih mahal harganya daripada citra atau branding. 

Selera dan kemampuan teknis musisinya ditaruh di depan, sementara teknologi cuma jadi pendukung di belakang.

Mentalitas itu yang sekarang hilang dan sangat kita butuhkan. Sekarang kita hidup di era di mana semuanya bisa dimanipulasi. Kita punya autotune dan ada AI yang bisa bikin musik dalam hitungan detik. Hasilnya musik jadi terasa terlalu sempurna, terlalu halus, tapi sering kali terasa kosong.

Lebih dari Sekadar Viral

Penikmat musik zaman sekarang sebenarnya sudah capek sama kepalsuan itu. Kita nggak lagi mencari kesempurnaan yang dipoles berkali-kali. 

Kita justru haus sama sesuatu yang terasa dekat, yang terasa intim, dan yang terasa nyata. Kita pengen dengar suara napas penyanyinya, pengen dengar gesekan jari di senar gitar, atau pengen dengar kesalahan kecil yang justru bikin lagu itu terasa manusiawi.

Kalau musik pengen punya umur yang panjang lagi, bukan cuma sekadar viral seminggu terus besoknya dilupakan, dunia musik butuh ujian itu lagi. 

Kita butuh filter yang bisa memberi tahu siapa yang benar-benar bisa nyanyi dan siapa yang cuma jago di depan komputer. Kita butuh melihat musisi idola kita berkeringat di atas panggung kecil, cuma ditemani alat musik kayu, sambil meyakinkan kita kalau lagu mereka memang punya jiwa.

Mengembalikan format seperti MTV Unplugged itu bukan langkah mundur. Justru itu langkah maju buat menyelamatkan kualitas musik. 

Kita butuh tempat di mana bakat murni jadi poin utama lagi. Karena pada akhirnya, sehebat apa pun teknologinya, perasaan manusia nggak akan pernah bisa dibohongi sama sesuatu yang nggak punya nyawa. 

Musik butuh kejujuran itu balik lagi, dan Unplugged adalah cara paling masuk akal buat mewujudkannya. (*)

Lebih baru Lebih lama