Lupa Kulit Setelah Kenyang Makan Beasiswa Negara

paspor inggris

Ini tulisan buat siapa saja yang mau tahu duduk perkara Dwi Sasetyaningtyas, alumnus LPDP yang lagi ramai diomongin itu. Cerita ini sebenarnya cuma soal pamer yang kebablasan, tapi bumbunya bikin orang se-Indonesia gatal mau ikut komentar.

Paket Istimewa dari Inggris

Semua bermula dari sebuah video unboxing. Tapi yang dibuka bukan paket belanjaan diskon tanggal kembar, melainkan dokumen resmi dari pemerintah Inggris

Di situ, si mbak ini kelihatan senang sekali, sampai terharu, karena anak keduanya resmi jadi warga negara Inggris. Dia bilang ini adalah momen yang mengubah nasib dan masa depan anak-anaknya. 

Sampai sini sebenarnya biasa saja, namanya orang tua pasti mau yang terbaik buat anak. Masalahnya muncul waktu dia kasih tambahan kalimat yang bikin telinga orang panas.

Dia bilang begini, "Cukup aku saja yang WNI, anak-anakku jangan." 

Kalimat ini keluar sambil dia pamer paspor yang katanya "kuat" itu. Dia merasa sudah menyelamatkan masa depan anaknya supaya tidak perlu susah-susah pakai paspor Indonesia yang aksesnya terbatas. Niatnya mungkin mau berbagi kebahagiaan, tapi jatuhnya malah seperti mengejek negara sendiri di depan umum.

Jejak Digital yang Berbicara

Netizen Indonesia itu punya bakat jadi detektif yang lebih hebat dari polisi kalau sudah urusan bongkar masa lalu. Tidak butuh waktu lama buat orang-orang menemukan fakta kalau si mbak ini adalah mantan penerima beasiswa LPDP. 

Buat yang belum tahu, LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) itu adalah beasiswa dari pemerintah yang uangnya diambil dari pajak rakyat, termasuk pajak dari orang-orang yang buat beli beras saja masih mikir dua kali.

Tiba-tiba narasi "cukup aku saja yang WNI" jadi terlihat sangat lucu dan menyebalkan. Orang-orang merasa dia ini seperti kacang yang lupa kulitnya. Sudah disekolahkan tinggi-tinggi pakai uang negara, eh setelah pintar malah bangga-banggakan anak jadi warga negara lain. 

Ibaratnya ada orang dikasih makan gratis karena kelaparan, pas sudah kenyang dia meludah di depan orang yang kasih makan. Begitulah kira-kira perasaan netizen waktu lihat video itu.

Skenario Orang Pintar atau Orang Beruntung

Lama-lama makin banyak yang dikuliti. Ternyata si mbak ini bukan berasal dari keluarga yang kekurangan. Suaminya juga disebut-sebut anak pejabat penting. Jadi tanpa beasiswa negara pun, mereka ini orang-orang yang sudah punya segala macam kemudahan hidup. 

Hal ini yang bikin orang makin gemas. Banyak orang pintar di luar sana yang betul-betul butuh bantuan biaya sekolah tapi tidak dapat kuota, sementara ini ada orang yang sudah kaya, dapat beasiswa, terus malah pamer anak pindah warga negara.

Ada juga yang mulai bahas soal aturan hukum. Katanya, anak dari orang tua WNI yang lahir di luar negeri itu memang bisa punya kewarganegaraan ganda sampai umur 21 tahun. 

Jadi tidak perlu heboh-heboh amat pamer dokumen, karena status itu otomatis ada masanya. Tapi ya namanya juga butuh konten, kalau tidak dipamerkan pakai narasi yang menyentuh hati, rasanya kurang lengkap.

Maaf yang Terlambat

Setelah dihujat habis-habisan dan namanya jadi trending di mana-mana, barulah si mbak ini muncul buat minta maaf. Dia bilang kalau kewajibannya sama LPDP sudah selesai dan dia sudah kontribusi lewat bisnisnya di Indonesia selama lima tahun terakhir. Dia juga minta supaya masalah beasiswa jangan dikait-kaitkan sama status kewarganegaraan anaknya.

Tapi ya sudah terlambat. Orang-orang sudah terlanjur geram. Permintaan maafnya dianggap cuma buat meredakan suasana supaya bisnisnya tidak kena imbas. Netizen sudah terlanjur melabeli dia sebagai sosok yang kurang empati

Pelajaran pentingnya sederhana sekali: kalau memang merasa sudah sukses dan punya hidup lebih enak dari orang lain, lebih baik dinikmati sendiri saja. Tidak semua hal harus dijadikan konten, apalagi kalau isinya cuma mau pamer sambil merendahkan asal-usul sendiri. 

Akhirnya malah jadi bumerang yang bikin nama baik hancur dalam sekejap gara-gara satu video berdurasi beberapa detik saja. (*)

Lebih baru Lebih lama