Menemukan Ritme Tarawih yang Pas di Hati

tarawih

Shalat Tarawih adalah ibadah yang unik karena cuma ada sebulan dalam setahun, tapi dinamikanya luar biasa. Ada yang semangatnya membara sampai akhir, ada yang semangatnya cuma di minggu pertama, dan ada juga yang terjebak dalam dilema antara pengin dapat pahala banyak atau pengin cepat selesai buat lanjut makan takjil yang tersisa.

Fenomena Tarawih Satu Juz

Ada masjid yang imamnya punya misi menyelesaikan satu juz Al-Qur'an dalam semalam. Seperti di Masjid Raya Qurra Wal Hufazh, Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara.

Ini levelnya sudah seperti latihan fisik sekaligus batin. Berdiri 20 rakaat ditambah 3 witir, dan setiap rakaatnya dibacakan lembaran-lembaran ayat yang panjang. Durasinya bisa memakan waktu dua sampai tiga jam.

Bagi mereka yang sudah terbiasa atau memang penghafal Al-Qur'an, ini mungkin menenangkan. Tapi bagi orang yang kakinya sudah mulai sering bunyi "krek" kalau kelamaan berdiri, seperti saya, ini adalah perjuangan.

Kaki rasanya kesemutan, pikiran mulai melayang kemana-mana, sampai mata yang perlahan-lahan makin berat. Tapi ya itu seninya. Ada kepuasan tersendiri pas akhirnya imam bilang "Assalamualaikum" di rakaat terakhir witir. Rasanya seperti baru saja menyelesaikan lari maraton, tapi versi spiritual.

Kecepatan Cahaya di Atas Sajadah

Di tempat lain, ada fenomena yang bikin banyak orang geleng-geleng kepala: Tarawih super cepat. Seperti di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Qur'aniyah, Indramayu, yang menjalankan 23 rakaat (termasuk witir) tapi selesai cuma dalam waktu enam menit. Kalau kita hitung secara matematis, itu gerakannya sudah bukan lagi seperti salat, tapi sudah mirip gerakan bela diri atau olahraga intensitas tinggi.

Ini agak membingungkan bagi banyak orang. Baru saja  mau baca "Alhamdulillahi rabbil 'alamin", imam sudah rukuk. Pas kita mau rukuk, imam sudah sujud. Begitu terus sampai rakaat terakhir.

Bukannya mau menghakimi ibadah orang lain, tapi saya sulit membayangkan gimana caranya mendapatkan ketenangan atau khusyuk kalau gerakannya secepat itu. Bukannya dapat pahala tenang, yang ada malah napas ngos-ngosan dan baju basah karena keringat seperti habis main futsal.

Jalur Tengah yang Lebih Manusiawi

Kalau disuruh memilih di antara dua kutub ekstrim itu, saya pribadi lebih condong ke jalur tengah. Saya lebih suka ikut salat yang 11 rakaat saja, delapan rakaat tarawih dan tiga rakaat witir. Bacaannya normal, tidak terlalu lambat sampai bikin mengantuk, tapi juga tidak secepat balapan motor. Cukup pakai surat-surat pendek yang ada di juz terakhir Al-Qur'an saja.

Pilihan ini terasa lebih masuk akal buat kebanyakan orang. Kita tetap bisa menikmati bacaan imam, bisa merenung sedikit saat sujud, dan yang paling penting, lutut tidak protes berlebihan.

Karena buat saya shalat adalah ingin berkomunikasi dengan Tuhan di bulan yang baik ini. Kalau kita salat tapi pikiran malah sibuk mengeluh soal durasi atau malah pusing karena gerakannya terlalu cepat, esensi ibadahnya jadi agak hilang, menurut keyakinan saya.

Biarkan Tuhan yang Menilai

Pada akhirnya, Ramadan itu bukan soal siapa yang paling banyak rakaatnya atau siapa yang paling cepat selesainya. Ini soal bagaimana hati kita merasa tenang setelah melakukannya.

Tidak masalah kalau cuma sanggup ikut yang 8 rakaat dengan surat-surat pendek, asalkan kalian benar-benar hadir di situ secara fisik dan mental.

Jadi, silakan pilih tarawih yang paling cocok dengan kondisi fisik dan suasana hati kalian masing-masing. Yang penting, setelah keluar masjid hati kita jadi lebih tenang daripada saat masuk tadi. (*)

Lebih baru Lebih lama