Seni Masa Bodo

IDGAF

Berhenti saat merasa semua mata tertuju ke kamu adalah langkah awal untuk benar-benar merasa bebas. Selama ini, kita kerap terjebak dalam pikiran kalau setiap gerak-gerik, pilihan baju, sampai kesalahan kecil bakal jadi bahan omongan orang berhari-hari. Padahal kenyataannya jauh lebih sederhana dan sejujurnya sangat melegakan. 

Ilusi Sorotan yang Bikin Capek 

Kita sering merasa seperti pemeran utama di sebuah film yang lagi tayang di seluruh dunia. Sewaktu ada noda kuah soto di baju atau sadar kalau kaos kaki yang dipakai ternyata beda sebelah, jantung rasanya mau copot. Ada rasa malu yang menusuk karena kita pikir semua orang kita sedang mentertawakan keteledoran kita. 

Fakta pahitnya, nggak ada yang peduli, kok. Orang lain nggak bakalan sempat memperhatikan noda di baju kamu karena mereka sendiri lagi sibuk dengan penampilan mereka sendiri. 

Setiap orang menjadi pusat semesta buat dirinya masing-masing. Mereka lebih pusing mikirin cicilan, kerjaan yang numpuk, atau bagaimana bentuk rambut mereka di kaca daripada harus menyimpan memori soal kesalahan kecil yang kamu buat. 

Rumus Sederhana Biar Nggak Pusing 

Hidup jadi terasa jauh lebih enteng sewaktu saya mulai pakai filter sederhana buat semua masalah: apa hal ini bisa saya ubah? Kalau jawabannya nggak, ya sudah, mending energinya disimpan. Khawatir itu boros tenaga. 

Kalau kamu pernah salah ngomong pas rapat kemarin, itu sudah lewat. Kamu nggak punya mesin waktu buat balik ke sana dan benerin kalimat itu. 

Daripada terus-terusan muter rekaman memalukan itu di kepala, ambil saja pelajarannya. Kalau sudah tahu salahnya di mana, ya sudah, move on. 

Terus-terusan merasa malu nggak bakal mengubah apa yang sudah terjadi. Malah itu cuma bakal merusak hari ini yang harusnya bisa kamu pakai buat hal-hal yang lebih asyik. 

Memfilter Siapa yang Layak Didengar 

Kadang kita merasa hancur cuma karena komentar miring dari orang yang bahkan nggak kita kenal, atau orang yang cara hidupnya pun nggak pengen kita tiru. Ini sering jadi jebakan yang bikin kita capek sendiri. 

Coba pikir begini: kalau kamu nggak pernah datang ke orang itu buat minta pendapat, kenapa pendapat buruk mereka harus bikin kamu kepikiran? 

Logikanya simpel saja, jangan beri izin ke orang yang nggak punya peran penting di hidup kamu buat menentukan suasana hati kamu. Kita harus mulai milih-pilih siapa yang boleh memberi kritik. Nggak semua suara itu berharga buat didengar. 

Berhenti Galak ke Diri Sendiri 

Kritik paling jahat itu biasanya muncul dari pikiran kita sendiri. Kita sudah cukup sering menghukum diri sendiri pakai kata-kata yang kasar. Mencari validasi atau menunggu kritik dari luar itu hanya menambah beban yang sebenarnya sudah kita tumpuk sendiri di pundak. 

Mengurangi rasa peduli sama omongan orang itu bukan berarti kita jadi sombong atau nggak mau tahu. Ini soal jaga kewarasan. Sewaktu kita berhenti memberi energi ke hal-hal yang di luar kendali kita, kita memberi ruang buat diri sendiri untuk tumbuh apa adanya. 

Kamu nggak perlu jadi sempurna buat diterima, karena standar sempurna itu seringnya cuma ada di bayangan kita saja. 

Nikmatnya Jadi Biasa Saja 

Ada kekuatan besar saat kita menerima kenyataan kalau kita ini cuma bagian kecil dari dunia yang ramai ini. Ketika saya sadar kalau saya nggak sepenting itu di mata orang lain, saya merasa bebas buat melakukan apa pun yang saya suka tanpa beban. Yang penting tidak merugikan atau mengganggu orang lain ya. 

Saya bisa pakai baju yang paling nyaman meskipun mungkin nggak dianggap keren sama orang lain. Saya bisa mencoba hobi baru terus gagal total tanpa takut kelihatan bodoh. 

Tidak peduli dengan hal yang memang tidak perlu dipedulikan itu adalah bentuk sayang terhadap diri sendiri. Dunia bakal tetap berputar, mau kamu tampil sempurna hari ini atau nggak. 

Mending simpan tenaga kamu buat orang-orang yang memang tulus peduli, dan biarkan sisanya lewat begitu saja. Hidup ini terlalu singkat buat dihabiskan cuma buat nebak-nebak apa yang ada di pikiran orang lain, yang mungkin malah nggak mikirin kita sama sekali. (*)

Lebih baru Lebih lama