Bukan Tidak Manusiawi, Tapi Kita Harus Realistis Soal Masalah Rohingya

protes rohingya

Saya sudah malas banget melihat perdebatan soal Rohingya di media sosial. Dulu waktu mereka pertama kali sampai di Aceh, banyak orang merasa harus membantu atas nama kemanusiaan atau solidaritas agama. Tapi kalau kita lihat kenyataannya sekarang, simpati itu rasanya sudah tidak relevan lagi. Kita harus berhenti memberikan simpati kepada mereka.

 

Logika Dangkal Soal Pulau Kosong

 

Saya ingat betul dulu pernah adu argumen dengan orang di internet. Dia bilang, "Indonesia kan punya ribuan pulau kosong, kasih saja satu buat mereka."

 

Ini tipe logika yang sangat dangkal. Menaruh manusia di satu pulau itu bukan seperti melepas bibit ikan di kolam. Mereka butuh makan, butuh pakaian, butuh tempat berteduh yang layak, sampai fasilitas kesehatan.

 

Siapa yang bayar? Ya ujung-ujungnya pakai uang pajak kita, atau setidaknya menyita sumber daya yang seharusnya bisa dipakai buat rakyat kita sendiri.

 

Kemanusiaan yang Merepotkan Orang Lain

 

Masalahnya, orang yang paling kencang teriak soal kemanusiaan biasanya adalah orang yang paling tidak mau repot.

 

Waktu saya tantang balik, "Kalau memang kasihan, bawa satu orang untuk tinggal di rumahmu."

 

Apa jawabannya? "Ya nggak bisa, itu tugas negara." Enak sekali ngomong begitu. Mereka mau merasa jadi orang baik tanpa harus keluar modal atau tenaga, lalu membebankan masalahnya ke masyarakat luas.

 

Tamu yang Tidak Tahu Diri


rohingya ditolak 

Sekarang coba kita lihat faktanya. Banyak berita soal pengungsi ini yang mulai berulah. Dari masalah makanan yang katanya tidak cocok, sampai perilaku yang tidak menghargai aturan lokal.

 

Mereka datang sebagai tamu, tapi kelakuannya sering kali melampaui batas. Ada kesan mereka merasa berhak atas segala bantuan yang diberikan. Ini yang bikin saya makin yakin kalau simpati kita itu salah sasaran.

 

Prioritas yang Terbalik

 

Logikanya sederhana saja. Di negara kita sendiri, masih banyak orang yang tidurnya di kolong jembatan. Masih banyak anak-anak yang putus sekolah karena tidak punya biaya. Masih banyak warga di pelosok yang jangankan makan enak, buat minum air bersih saja susah.

 

Kalau kita punya sumber daya lebih, logikanya ya bantu saudara sendiri dulu. Jangan sampai kita sibuk memikirkan orang dari luar, sementara tetangga sebelah rumah kelaparan. Itu bukan kemanusiaan namanya, itu cari muka tapi mengorbankan keluarga sendiri.

 

Keberadaan pengungsi dalam jumlah besar itu beban. Itu fakta, bukan kebencian. Setiap rupiah yang dikeluarkan untuk mengurus mereka adalah rupiah yang diambil dari anggaran yang seharusnya bisa dipakai untuk membangun infrastruktur atau subsidi buat rakyat kecil di Indonesia.

 

Kita bukan negara kaya yang punya dana tak terbatas buat menampung semua masalah dunia. Kita punya masalah kita sendiri yang numpuk dan belum selesai-selesai.

 

Magnet Bagi Masalah yang Lebih Besar


penyelundup rohingya 

Selain itu, kalau kita terus-terusan menunjukkan sikap lunak dan penuh simpati, ini akan jadi sinyal buat jaringan penyelundup manusia. Mereka akan melihat Indonesia sebagai tempat yang gampang ditembus.

 

Makin kita "kasihan", makin banyak yang datang. Ini jadi lingkaran setan yang nggak akan ada habisnya. Kalau kita tidak tegas dari sekarang, jumlah mereka akan terus bertambah dan masalah sosial yang ditimbulkan bakal makin rumit.

 

Jangan mau terjebak dengan narasi-narasi yang mencoba memeras emosi kita. Kita harus pakai logika. Membantu orang itu ada batasnya, terutama kalau orang yang dibantu malah tidak tahu diri.

 

Rasa kasihan itu mahal harganya, jangan dibuang-buang untuk kelompok yang justru membawa masalah baru buat stabilitas dan ketenangan di dalam negeri.

 

Menjaga Rumah Sendiri adalah Kewajiban

 

Kita harus realistis. Kepentingan rakyat Indonesia harus di atas segalanya. Tidak perlu merasa jahat karena tidak memberikan simpati kepada mereka.

 

Menjaga rumah sendiri agar tetap stabil dan aman itu jauh lebih penting daripada berusaha terlihat suci di mata dunia tapi membiarkan kekacauan terjadi di halaman rumah sendiri.

 

Simpati yang salah tempat hanya akan membawa penyesalan di kemudian hari, dan tanda-tandanya sudah mulai terlihat sekarang. Berhenti memanjakan mereka dengan rasa kasihan yang tidak perlu. (*)

Lebih baru Lebih lama