Kenapa AI Hobi Banget Pakai em-dash (—) dalam Tulisannya?

em-dash

Kamu pernah baca sebuah tulisan atau artikel yang di dalamnya ada satu tanda baca yang muncul terus-menerus: tanda pisah atau em-dash (—).

Konon katanya penggunaan em-dash yang berlebihan jadi salah satu ciri paling gampang buat mengenali apakah sebuah teks itu hasil ketikan manusia atau buatan AI. Kenapa sih AI hobi banget pakai tanda pisah ini?

Warisan dari Buku-Buku Tua

Salah satu alasan utamanya sebenarnya cukup sederhana: AI itu belajar dari apa yang kita beri. Data yang dibutuhkan untk melatih AI itu jumlahnya masif, dan di dalamnya termasuk ribuan buku klasik dari zaman dulu.

Kalau kalian iseng buka novel-novel sastra lama seperti Moby Dick atau karya-karya Jane Austen, kalian bakal nemu kalau penulis zaman dulu memang "gila" em-dash.

moby dick
cuplikan Moby Dick

Dulu, tanda pisah dipakai untuk memberi jeda yang dramatis atau menambahkan keterangan tambahan di tengah kalimat.

Masalahnya, AI itu jago meniru pola tapi kurang peka dengan konteks modern. AI pikir, karena penulis hebat zaman dulu pakai banyak tanda pisah, berarti itu cara biar tulisan kelihatan "berkelas". Padahal buat pembaca zaman sekarang, kebanyakan tanda pisah malah bikin mata capek.

Cara AI Menghindari Keputusan Sulit

Ada penjelasan yang lebih mendalam soal kenapa AI nggak bisa lepas dari tanda baca ini. Menulis itu sebenarnya adalah proses mengambil keputusan. Kita harus memilih: "Poin mana yang paling penting dalam kalimat ini?"

Nah, AI sering kali malas atau bingung buat milih. Daripada harus menyusun struktur kalimat yang tegas, dia lebih suka pakai em-dash untuk menyelipkan tiga atau empat ide sekaligus dalam satu tarikan napas.

Contohnya, "Dia merasakan ketakutan—sesuatu yang dingin, tak bernama, sekaligus akrab—menyelimuti hatinya."

Kelihatannya sih keren, tapi sebenarnya itu adalah cara AI untuk tidak memilih mana deskripsi yang paling kuat. Dia memasukkan semuanya dan dipisahkan pakai em-dash. Bagi pembaca manusia, ini rasanya seperti diberi banyak informasi mentah tanpa ada penekanan yang jelas.

Budaya Internet dan Fanfiction

Selain buku klasik, AI juga banyak belajar dari tulisan-tulisan di internet, blog, dan fanfiction. Di dunia tulisan santai, em-dash sering dipakai buat menggambarkan cara orang ngomong yang nggak teratur, pikiran yang tiba-tiba muncul, atau komedi yang butuh jeda pas.

Karena data dari internet ini jumlahnya masif, AI menangkap kesan kalau tanda pisah adalah bumbu rahasia supaya tulisan terasa manusiawi dan luwes.

Padahal yang terjadi malah sebaliknya. Karena dipakai hampir di setiap paragraf, tanda itu malah jadi ciri khas mesin yang terlalu berusaha keras kelihatan seperti manusia.

Dilema Penulis Manusia

Yang agak menyedihkan adalah dampaknya ke penulis manusia. Sekarang, banyak penulis yang suka pakai em-dash jadi merasa waswas. Ada ketakutan kalau mereka pakai gaya alami mereka, tulisan mereka bakal kena flag atau dituduh hasil AI.

Bahkan ada yang sampai ekstrem mengubah gaya tulisannya. Misalnya mengganti semua em-dash jadi tanda kurung atau titik supaya nggak dibilang mirip robot.

Ironis banget, ya? Manusia yang mengajarkan AI cara menulis, sekarang malah harus mengalah dan mengubah gaya demi menghindar dari bayang-bayang muridnya sendiri.

Belajar Mengedit Lebih Manusiawi

Terus apa yang bisa kita pelajari dari fenomena ini? Sebenarnya kuncinya ada di proses edit. AI mungkin bisa membuat draf awal yang cepat, tapi kitalah yang harus memberi "nyawa" dan kejelasan.

Kalau kalian pakai AI buat menulis, coba cek lagi drafnya. Kalau dalam satu paragraf ada lebih dari dua tanda pisah, coba deh dirombak. Pecah kalimatnya jadi dua, atau pakai kata penghubung yang lebih jelas.

Ingat, tulisan yang bagus itu yang nggak bikin pembacanya nahan napas kepanjangan gara-gara kalimat yang nggak habis-habis.

Kesimpulannya, em-dash itu alat yang hebat kalau dipakai di waktu yang tepat. Jangan biarkan dia jadi "sampah" yang malah merusak alur cerita atau gagasan kalian.

Tulislah dengan jujur, sederhana, dan jangan takut buat pakai titik. Karena kadang-kadang, cara paling manusiawi buat mengakhiri sebuah pikiran adalah dengan berhenti sejenak, bukan dengan narik garis panjang tanpa ujung. (*)

Lebih baru Lebih lama