Gerakan "Go Vegan" di TikTok yang dibuat oleh seorang kreator konten bernama Nico Hernawan bikin ramai komentar netizen. Bukan masalah makan sayurnya, tapi cara kampanyenya yang menyenggol logika dasar. Ketika argumen yang dibangun salah, hasilnya bukan simpati, melainkan perlawanan dari netizen yang merasa logika mereka diremehkan.
Cek Lagi Pelajaran Biologi Soal Gigi Taring
Argumen paling klasik yang jadi
favorit kaum vegan adalah klaim kalau manusia aslinya adalah herbivora karena nggak punya gigi taring besar seperti singa.
Ini jelas salah kaprah. Manusia itu punya gigi taring, cuma ukurannya memang mengecil lewat proses evolusi
jutaan tahun. Nenek moyang kita mengembangkan
teknik membuat pisau dari batu untuk memotong daging dan menggunakan api untuk masak.
Karena dagingnya jadi lebih kecil dan empuk setelah dimasak,
manusia nggak butuh lagi taring raksasa buat merobek daging.
Kalau kamu liat fosil manusia purba seperti Homo erectus atau Homo habilis, taring mereka jauh lebih besar dari manusia modern. Bentuk gigi manusia sekarang itu justru bukti kalau manusia adalah omnivora yang sangat
adaptif. Kita dirancang buat makan apa aja, dari kacang sampai steak.
Jangan Lupakan Urusan Nutrisi yang "Njelimet"
Mau jadi vegan itu butuh persiapan mental dan dompet yang kuat buat beli
suplemen. Tubuh manusia butuh vitamin B12 buat otak dan saraf. Masalahnya, vitamin ini hampir mustahil didapat cuma dari sayuran. Kamu harus minum suplemen buatan pabrik biar nggak gampang lemes, kena
anemia, atau malah depresi.
Fakta kalau seorang vegan harus bergantung dengan suplemen kimia seumur hidup sebenarnya jadi kode keras
dari alam. Tubuh kita memberi tahu kalau cuma makan
tumbuhan itu nggak lengkap buat spek biologi manusia.
Selain B12, zat besi dan omega-3 yang ada di daging itu jauh lebih gampang
diserap tubuh dibanding versi tumbuhannya.
Sisi Gelap Pertanian yang Jarang Dibahas
Banyak yang mengira hanya makan sayur itu nggak "berdosa". Padahal, pertanian skala besar
juga punya korban yang jumlahnya ngeri. Industri pertanian membunuh jutaan tikus, burung, dan serangga akibat pestisida agar panen lancar dan sayuran terlihat bagus.
Bahkan, jamur yang sering dijadikan pengganti daging itu aslinya lebih dekat dengan hewan daripada tumbuhan. Jamur bersifat
heterotrof seperti hewan (menyerap nutrisi dari luar), bukan autotrof seperti
tumbuhan yang berfotosintesis. Dinding sel jamur terbuat dari kitin, sama seperti eksoskeleton
serangga, sedangkan tumbuhan menggunakan selulosa.
Jadi kalau alasannya cuma "kasihan sama makhluk hidup", garis
batasnya jadi makin abu-abu. Hampir semua yang kita konsumsi punya jejak
ekologis masing-masing.
Realita di Indonesia
Kampanye vegan yang terlalu agresif di Indonesia terasa kurang pas jika melihat angka stunting yang masih tinggi. Di saat anak-anak butuh protein hewani
buat pertumbuhan otak dan fisik, malah ada narasi yang menyuruh jauh-jauh makan daging.
Lagian, nggak usah disuruh menjadi vegan pun, banyak
masyarakat Indonesia sudah otomatis jadi vegan karena tidak mampu membeli
protein hewani. Banyak kan orang yang cuma makan daging setahun sekali saat
Idul Adha saja?
Belum lagi urusan ekonomi peternak lokal kita. Kalau semua mendadak
berhenti makan daging, rantai ekonomi dan ekosistem juga bakal kacau. Hewan
ternak memberi pupuk alami buat tanah. Tanpa mereka,
kita bakal makin ketergantungan dengan pupuk kimia yang
bikin tanah makin rusak.
Intinya Nggak Usah Saling Judge
Sah-sah aja kalau mau jadi vegan buat
kesehatan atau gaya hidup. Yang bikin emosi itu adalah narasi yang seolah-olah bilang kalau nggak vegan berarti nggak punya empati
atau nggak bermoral, mencoba memvalidasi pilihan hidup dengan cara menjatuhkan pilihan orang lain.
Cobalah saling menghargai pilihan masing-masing daripada sibuk merasa paling suci. Intinya, balik lagi ke data dan kebutuhan tubuh
masing-masing, karena tiap orang punya kondisi biologi dan ekonomi yang beda-beda.
Rujukan:
https://www.britannica.com/science/canine-tooth
https://quadram.ac.uk/warning-on-vitamin-b12-deficiency-for-vegans-and-vegetarians/
