Bukan Soal Rajin, Tapi yang Paham Akan Tugasnya

pasang WC jongkok di dinding

Pandji Pragiwaksono baru saja menaruh cermin besar di depan muka kita semua lewat pertunjukan standup berjudul "Mens Rea". Pesan yang dilempar sebenarnya sederhana, tapi kayaknya banyak yang tersinggung

Indonesia ini sebenarnya tidak kekurangan stok orang baik. Kalau cuma cari orang jujur, rajin ibadah, atau yang suka bagi-bagi bantuan, kita punya jutaan. Masalah utamanya ada pada kekosongan pemimpin yang benar-benar paham apa yang harus dia kerjakan setelah duduk di kursi jabatan.

Banyak orang terjebak pada narasi bahwa asal sudah bekerja keras, maka semuanya beres. Padahal jabatan publik itu bukan perlombaan lari maraton siapa yang paling berkeringat. Jabatan adalah soal kapasitas intelektual dan kesadaran penuh terhadap peran. 

Analogi Tukang Pasang WC Jongkok di Dinding 

Analogi Pandji tentang tukang yang memasang WC jongkok di dinding adalah gambaran paling akurat tentang kondisi birokrasi kita saat ini.

Coba perhatikan logikanya. Tukang itu tidak malas. Dia datang pagi, pulang sore, mengaduk semen dengan semangat, dan memasang keramik dengan rapi. Masalahnya cuma satu: dia tidak paham fungsi benda yang dia pasang. Hasilnya, sebuah karya yang sia-sia dan justru merepotkan semua orang.

Kita sering melihat fenomena ini di pemerintahan. Ada pejabat yang sibuk sekali membuat kebijakan, melakukan rapat koordinasi sampai tengah malam, dan sering turun ke lapangan. Namun ketika hasilnya dilihat, tidak ada masalah rakyat yang benar-benar tuntas.

Mereka hanya sibuk bekerja, tapi tidak tahu substansi dari pekerjaan tersebut. Bekerja tanpa arah itu bukan dedikasi, itu adalah pemborosan sumber daya negara.

Kapasitas Melampaui Citra

Selama ini, standar kita dalam memilih pemimpin seringkali terlalu rendah. Kita mudah terkesima dengan sosok yang terlihat "merakyat" atau yang punya citra "orang baik".

Padahal kebaikan personal seseorang tidak otomatis berbanding lurus dengan kemampuannya mengelola sistem yang rumit. Mengelola negara memerlukan navigasi kebijakan yang presisi, bukan sekadar niat baik yang mengawang-awang.

Kesadaran peran adalah level tertinggi dalam kepemimpinan. Seorang pemimpin harus tahu kapan dia bertindak sebagai pengambil keputusan, kapan dia menjadi pendengar, dan kapan dia harus mendelegasikan tugas.

Tanpa pemahaman ini, pemimpin hanya akan menjadi operator teknis yang terjebak dalam urusan remeh-temeh.

Saya melihat banyak kebijakan yang lahir hanya karena ingin terlihat bekerja, bukan karena kebijakan itu benar-benar dibutuhkan secara struktural.

Mentalitas "Sengaja" dalam Memimpin

Judul "Mens Rea" sendiri merujuk pada niat jahat atau sikap batin dalam hukum pidana. Namun dalam konteks kepemimpinan yang dibawa Pandji, ini bisa kita artikan sebagai kesengajaan dalam berpikir.

Memimpin itu harus dilakukan dengan penuh kesadaran, bukan karena kebetulan menang pemilu atau sekadar menjalankan rutinitas.

Setiap tanda tangan yang dibubuhkan di atas kertas kebijakan harus memiliki landasan rasional yang kuat.

Jika seorang pemimpin tidak paham mengapa dia menandatangani sesuatu, maka dia sebenarnya sedang membahayakan jutaan nyawa.

Kita harus berhenti menoleransi ketidakmampuan hanya karena pelakunya adalah orang yang terlihat sopan atau rajin. Profesionalisme di ruang publik adalah harga mati yang tidak bisa ditawar dengan alasan kepribadian yang menyenangkan.

Berhenti Memuja Kerja Keras Tanpa Arah

Dunia bergerak sangat cepat dan tantangan yang dihadapi bangsa ini semakin kompleks. Kita berhadapan dengan masalah ekonomi makro, perubahan iklim, hingga krisis pendidikan. Semua ini mustahil diselesaikan oleh orang yang hanya mengandalkan otot tanpa otak yang terasah untuk membedah masalah.

Indonesia butuh orang-orang yang berani mengakui keterbatasan kapasitasnya atau mereka yang terus-menerus meng-upgrade diri agar relevan dengan tuntutan zaman.

Pemimpin yang hebat adalah mereka yang tahu bahwa jabatan adalah alat untuk menyelesaikan masalah, bukan sekadar trofi untuk dipajang di biodata media sosial.

Sudah waktunya kita menaikkan standar. Jangan lagi memberikan tepuk tangan untuk pemimpin yang hanya sekadar "ada" dan "bekerja". Kita harus menuntut hasil yang nyata dari pemahaman tugas yang benar.

Keberhasilan sebuah negara ditentukan oleh seberapa sinkron antara niat, pengetahuan, dan tindakan para pemegang kekuasaan. Tanpa itu, kita hanya akan terus melihat WC jongkok terpasang di dinding. (*)

Lebih baru Lebih lama