Suka Main Game Tembak-tembakan, Apa Otomatis Berpotensi Jadi Teroris?

Suka Main Game Tembak-tembakan, Apa Otomatis Berpotensi Jadi Teroris? 

Saya dari dulu suka sekali main game balapan seperti GRID atau DiRT, dan game menyetir truk Euro Truck Simulator. Tapi sampai sekarang, saya nggak bisa nyetir mobil beneran (aduh….jadi malu).

 

Ada lagi teman saya yang lumayan mahir main game Guitar Hero. Dia bisa mencapai full combo pada lagu tersulit sekalipun, tombol-tombolnya ditekan secepat kilat tanpa meleset. Tapi giliran dikasih gitar beneran, taunya cuma chord G, D, Em, C. Kalau lagunya susah sedikit, bingung dia.

 

Contoh lain lagi, ada teman yang jago banget main game sepak bola eFootball. Sering menang kalau lagi main di tempat rental. Tapi waktu diajak main futsal di lapangan, baru lari lima menit sudah kehabisan napas. Nendang bola pun asal-asalan, jauh dari sasaran.

 

Ketiga contoh tadi memberikan satu kesimpulan utama: keterampilan dunia game berbeda dengan keterampilan dunia nyata. Game melatih ketepatan mata, kecepatan jari, dan reaksi cepat terhadap visual. Dunia nyata melibatkan koordinasi seluruh tubuh, fisik, mental, emosi, dan yang paling krusial, konsekuensi nyata.

 

Logika Jari Lincah vs. Fisik Dunia Nyata

 

Kita harus memperjelas perbedaan ini. Pemain game balap handal mungkin punya refleks hebat dalam menentukan kapan harus mengerem atau menambah kecepatan di tikungan. Tapi mereka tidak pernah merasakan gaya gravitasi yang menarik tubuh saat mobil berbelok tajam, atau memahami feeling tekanan ban di aspal licin.

 

Pemain Guitar Hero melatih kecepatan menekan tombol plastik. Mereka tidak melatih kekuatan otot jari untuk menekan senar, atau kemampuan telinga untuk membedakan nada.

 

Lalu bagaimana dengan game tembak-tembakan atau First Person Shooter (FPS)? Ini yang sering membuat orang tua dan media khawatir. Kalau rutin main game PUBG, CS:GO, atau Valorant, apakah pemainnya otomatis jadi calon pelaku kekerasan yang mau menembak orang atau meledakkan bom?

 

Jawabannya sangat jelas: tidak ada hubungannya

 

Game FPS itu melatih memori otot dan kecepatan reaksi visual. Kamu perlu skill untuk menggeser controller-nya secepat kilat dan menekan tombol tembak secara tepat waktu. Game ini sama sekali tidak mengajarkan cara merakit bom, teknik navigasi di medan tempur sungguhan, apalagi menghilangkan empati kemanusiaan terhadap orang lain.

 

Game FPS: Latihan Refleks, Bukan Latihan Jadi Teroris

 

Seorang jagoan game FPS adalah jagoan di depan layar. Keterampilan menekan tombol mouse secepat kilat itu jauh sekali berbeda dengan kemampuan meng-handle senjata sungguhan dan menghadapi situasi hidup-mati. Kita bicara tentang fisika, psikologi, dan tekanan moral yang tidak ada padanannya di dunia virtual.

 

Game justru sering berfungsi sebagai pelampiasan yang aman. Setelah hari yang melelahkan di sekolah atau kantor, bisa mengalahkan musuh virtual di game memberikan rasa lega, sebuah pelepasan adrenalin yang aman dan terkendali.

 

Kalau ada pemain game tembak-tembakan yang kemudian menjadi pelaku kejahatan kekerasan, itu pasti karena faktor-faktor lain yang lebih dominan. Video game adalah kambing hitam termudah, padahal masalahnya jauh lebih dalam.

 

Akar Masalah Kekerasan Itu Jauh Lebih Serius

 

Kekerasan kriminal, apalagi yang terorganisir seperti terorisme, itu berakar dari masalah isolasi sosial yang mendalam, kesehatan mental yang terganggu, dan yang paling krusial adalah paparan ideologi radikal yang membenarkan kekerasan.

 

Ideologi ekstremis itu meracuni pikiran, menghancurkan empati, dan memberikan pembenaran semu untuk menyakiti orang lain. Hal-hal ini tidak bisa didapatkan dari main game tembak-tembakan.

 

Mencoba menghubungkan game FPS dengan aksi terorisme sama saja dengan mengatakan semua yang suka membaca novel Agatha Christie berpotensi jadi detektif ulung, atau semua yang nonton film James Bond berpotensi jadi agen rahasia. Korelasinya sangat lemah.

 

Kita perlu fokus pada mengapa seseorang merasa terasing, bagaimana ideologi kebencian bisa merasuk, dan apa yang membuat seseorang kehilangan kendali diri dalam dunia nyata, bukan pada hiburan yang ia pilih. (*)

Lebih baru Lebih lama