Satu Persen AI Membuatmu Tidak Layak Disebut Penulis?

satu-persen-ai-membuatmu-tidak-layak-disebut-penulis

Debat di internet itu memang tidak ada habisnya, ya? Baru-baru ini saya membaca sebuah topik di Reddit yang judulnya cukup menantang: "Kamu bukan penulis kalau karyamu mengandung AI walau cuma 1%." Sebuah pernyataan yang sangat berani, atau mungkin sangat kaku.

Membaca komentar-komentar di sana itu rasanya seperti masuk ke ruang diskusi yang isinya campuran antara filusuf, teknisi, dan orang-orang yang sedang "curhat" karena merasa profesinya terancam. Tapi menariknya, sebagian besar user di sana justru memberikan jawaban yang cukup menenangkan sekaligus sedikit menyentil.

Siapa yang Berhak Memberi Label?

Salah satu komentar yang menurut saya paling bijak mengatakan begini: jangan biarkan orang lain punya kuasa untuk menentukan siapa kamu. Kalau kamu merasa "menulis" itu penting bagi identitas kamu, terlepas dari bagaimana cara kamu melakukannya, ya lakukan saja.

Toh, gelar "penulis" itu bukan sertifikasi yang dikeluarkan oleh suatu badan atau organisasi, kan? Itu adalah sesuatu yang kamu putuskan sendiri di dalam hati dan pikiran kamu.

Teknologi: Dari Tanah Liat ke ChatGPT

Ada juga argumen yang cukup lucu tapi masuk akal. Dulu orang-orang bilang kamu bukan fotografer sejati kalau tidak pakai film fisik. Mungkin, menurut logika "anti-teknologi" ini, kita semua harus kembali ke zaman purba, mengukir tulisan di atas tablet tanah liat supaya bisa dianggap sebagai "penulis sejati".

Maksud saya begini, teknologi itu alat. Dulu kita pakai mesin ketik, lalu komputer, lalu ada Auto-correct dan Grammarly. Apakah menggunakan pemeriksa ejaan otomatis membuat kita jadi "penulis gadungan"? Tentu tidak. Jadi kenapa tiba-tiba garis batasnya ditarik tepat di depan kecerdasan buatan?

AI Sebagai Teman Diskusi, Bukan Pengganti

Banyak yang berargumen bahwa menggunakan AI itu sebenarnya mirip seperti ikut kelompok diskusi penulis. Di sana kita lempar ide, minta masukan, lalu merevisi adegan berdasarkan masukan teman-teman. Bedanya, sekarang "teman" itu berbentuk algoritma.

Seorang netizen bahkan bercerita dengan sangat menyentuh tentang bagaimana dia mengalami cedera otak yang membuat proses menulis jadi sangat sulit.

Baginya, AI adalah jembatan untuk menyatukan potongan-potongan pikiran yang sulit dia rakit sendiri. Tapi tetap saja, ide, suara, dan keputusan akhirnya ada di tangan dia. Kalau ada alat yang bisa membantu seseorang tetap kreatif di tengah keterbatasan, kenapa kita harus sinis?

Standar Ganda yang Menghibur

Ini bagian yang agak sarkas: banyak penulis profesional sebenarnya punya "pasukan" pembantu. Mulai dari ghostwriter, editor, asisten riset, sampai catatan-catatan dari agen atau sutradara. Kalau kita ganti kata "AI" dengan "editor" atau "ghost writer", banyak penulis ternama yang harus merelakan gelarnya menurut logika "1%" tadi.

Lucunya lagi, orang-orang yang benci AI sering bilang kalau tulisan AI itu buruk, kaku, dan membosankan. Tapi di saat yang sama, mereka bilang menggunakan AI itu "curang".

Lah, kalau hasilnya jelek, curangnya di mana? Ini kan kontradiktif. Ibaratnya kamu bilang teman kamu curang saat balapan lari karena dia pakai sepatu yang justru bikin dia lari lebih lambat. Aneh, ya?

Kesimpulan Sambil Menunggu Kopi Berikutnya

Pada akhirnya, menurut saya, yang membuat seseorang menjadi penulis bukanlah alat yang dia pegang, tapi niat dan visi yang ada di kepalanya.

Kalau kamu cuma copy-paste mentah-mentah dari AI tanpa sentuhan rasa atau pemikiran sendiri, mungkin memang kamu lebih cocok disebut sebagai "kurator data".

Tapi kalau AI digunakan untuk memicu inspirasi, memperbaiki struktur, atau sekadar membantu kamu melewati writer's block yang menyebalkan itu, ya kamu tetaplah penulis.

Internet akan selalu punya "polisi moral" yang siap menilang apa pun yang tidak sesuai dengan selera kuno mereka. Tapi ya sudah, biarkan saja mereka sibuk mencari kesalahan 1% itu.

Sementara mereka sibuk mengeluh, kita lebih baik lanjut menulis saja. Mau pakai AI, pakai pena bulu ayam, atau pakai kekuatan pikiran sekalipun. Yang penting karyanya selesai dan pesannya sampai.

Buat kamu yang sedang ragu: tetaplah menulis. Jangan biarkan komentar orang yang mungkin belum pernah menyelesaikan satu buku pun membuat kamu merasa kurang. Dunia ini butuh lebih banyak cerita, bukan lebih banyak polisi moral. (*)
Lebih baru Lebih lama