
Bagi yang sering berselancar di portal lowongan kerja seperti Glints, pemandangan angka gaji yang mepet batas bawah alias mepet UMR tentu sudah tidak asing lagi.
Banyak yang mengira ini murni karena perusahaan di Indonesia pelit atau tidak tahu menghargai keahlian kandidat. Fakta bahwa inflasi terus naik sementara penawaran gaji jalan di tempat membuat situasi ini makin terasa menjengkelkan bagi pencari kerja.
Namun, realitas di balik layar platform pencarian kerja ternyata tidak sesederhana itu. Ada faktor teknis dan sistem penawaran yang ikut bermain di balik angka-angka rendah yang sering muncul di layar monitor.
Masalah ini bukan sekadar urusan kemampuan finansial perusahaan, melainkan bagaimana sistem rekomendasi platform memperlakukan data pasar yang mereka miliki.
Intervensi Algoritma dan Rekomendasi Sistem
Sebuah unggahan di media sosial Threads dari akun rizal.fadh membuka tabir tentang apa yang sebenarnya terjadi di dapur pacu platform lowongan kerja.
Akun tersebut mengungkapkan sebuah anomali: ketika ada sebuah perusahaan yang sebenarnya sudah menawarkan gaji cukup besar, antara Rp10 juta - Rp15 juta untuk posisi Procurement Specialist, sistem di platform justru memunculkan saran gaji yang jauh di bawah itu, yakni di kisaran Rp4 juta - Rp6 juta.
Sistem rekomendasi otomatis ini bekerja berdasarkan basis data historis. Masalahnya, ketika algoritma mendeteksi rata-rata posisi sejenis di wilayah tersebut berada di angka rendah, sistem akan otomatis "menekan" saran angka ke bawah agar sesuai dengan mayoritas data yang masuk sebelumnya.
Rekomendasi ini awalnya dibuat untuk membantu perekrut agar tidak memasang angka yang terlalu tinggi dari rata-rata industri, namun efek sampingnya justru merugikan pasar tenaga kerja secara keseluruhan. Perekrut yang kurang riset mandiri akhirnya mentah-mentah mengikuti saran sistem tersebut.
Dampak Psikologis bagi Pencari Kerja
Bagi para pencari kerja yang melihat tayangan lowongan tersebut, dampaknya langsung terasa pada ekspektasi dan kondisi psikologis. Ketika posisi yang membutuhkan keahlian spesifik dan pengalaman bertahun-tahun hanya dihargai dengan nominal yang tidak jauh dari upah minimum, muncul persepsi bahwa industri sedang mengalami kemunduran atau eksploitasi.Kondisi ini diperparah oleh tekanan ekonomi makro. Inflasi membuat daya beli menyusut, sementara angka lowongan dengan penawaran ideal semakin langka.
Standar gaji yang bergeser ke bawah akibat rekomendasi sistem yang keliru ini menciptakan standar semu di mana pencari kerja terpaksa menurunkan ekspektasi mereka demi bisa mendapatkan pekerjaan, meskipun kemampuan mereka jauh di atas nilai tersebut.
Respon Platform dan Kebebasan Perusahaan
Setelah isu ini mendapat sorotan tajam, pihak Glints melakukan langkah koreksi. Mereka mengklaim telah melakukan penyesuaian pada sistem dengan menghapus fitur rekomendasi gaji otomatis apabila pihak perekrut berniat memasang kisaran gaji yang berada di atas rata-rata pasar yang terekam di sistem mereka. Langkah ini diambil untuk mencegah terjadinya bias penekanan nilai upah yang tidak perlu.
Perubahan sistem ini mengembalikan kontrol penuh kepada perusahaan. Perusahaan kini memiliki kebebasan mutlak untuk menentukan dan mencantumkan rentang gaji yang sesuai dengan anggaran, kebutuhan, serta kebijakan internal mereka sendiri tanpa harus "disetir" oleh saran algoritma yang usang.
Artinya, angka yang muncul di portal lowongan kerja sekarang murni merupakan cerminan dari apa yang siap dibayar oleh perusahaan tersebut, bukan lagi hasil rekomendasi otomatis sistem yang memotong standar.
Cara Menyikapi Angka Gaji di Portal Lowongan Kerja
Sebagai pencari kerja, memahami cara kerja sistem ini memberikan perspektif baru saat membaca lowongan kerja. Mengetahui bahwa angka yang tercantum bisa jadi dipengaruhi oleh sisa-sisa sistem lama atau strategi perekrut membuat kamu tidak perlu langsung berkecil hati saat melihat penawaran yang tertera rendah.- Riset Pasar Mandiri: Jangan menjadikan angka di satu portal sebagai satu-satunya acuan. Gunakan berbagai sumber, jaringan profesional, atau survei gaji independen untuk mengetahui nilai riil posisi kamu.
- Gunakan Celah Negosiasi: Seringkali perusahaan mencantumkan angka rendah hanya sebagai formalitas sistem atau penyaring awal. Jika kualifikasi kamu di atas rata-rata, ruang negosiasi tetap terbuka lebar saat proses wawancara akhir.
- Fokus pada Deskripsi Pekerjaan: Bandingkan beban kerja yang tertera dengan penawaran kompensasi. Jika tanggung jawabnya besar namun angkanya tidak masuk akal, kemungkinan perusahaan tersebut memang belum melakukan penyesuaian pasca-perubahan sistem atau memang sengaja mencari tenaga kerja murah.
Tags:
algoritma Glints
info loker terbaru
lowongan kerja
negosiasi gaji
portal kerja
tips cari kerja