Laki-laki dan Kata "Sepakat!"

laki-laki-dan-kata-sepakat

Ada potongan video di YouTube dari acaranya Najwa Shihab yang judulnya "Enaknya Jadi Laki-laki". Video itu sebenarnya sudah lama, tapi belakangan ini muncul terus di mana-mana sampai jadi bahan meme dan jokes.

Di video itu ada momen saat Najwa bilang, “laki-laki nggak bakal sanggup jadi perempuan.” Lalu Ge Pamungkas langsung nyaut, "Sepakat."

Singkat, padat, dan jelas. Sebagai sesama pria, saya merasa kata "sepakat" itu bukan sekadar setuju karena memang beneran setuju seratus persen. itu adalah bentuk pengakuan kalau stamina perempuan ada di level yang berbeda.


Strategi Bertahan Hidup Paling Ampuh

Dari sudut pandang saya sebagai laki-laki, kata "sepakat" itu sebenarnya muncul dari keterbatasan dalam memproses banyak hal sekaligus. Makanya laki-laki nggak bisa multi-tasking, betul kan?

Sewaktu perempuan lagi semangat-semangatnya menjelaskan sesuatu dengan stamina yang nggak habis-habis, kayak Najwa Shihab, kami bukannya malas dengerin. Kami dengar kok, tapi kami sadar diri.

Stamina kami nggak cukup buat menyamai stamina perempuan dalam konteks membahas satu hal dari berbagai sudut pandang tanpa haus.

Kami sebenarnya cuma kepengen damai, duduk tenang sambil liat ikan atau sekadar bengong liatin tembok yang warnanya mulai pudar.

Bila ada pernyataan yang berat seperti "laki-laki nggak bakal sanggup jadi perempuan," otak laki-laki itu langsung kerja cepat buat mencari jalan keluar paling aman.

Sebab kalau dibantah, urusannya panjang. Kalau nanya kenapa, nanti malah dijabarin A-Z. Akhirnya ya pilihannya cuma satu: mengangguk dan setuju ehh….sepakat.

Kalau Dibantah Malah Makin Ribet

Bayangkan kalau waktu itu Ge Pamungkas malah nanya balik atau nggak setuju dengan memberikan argumen tandingan. Pasti durasi acaranya bakal nambah tiga jam cuma buat bahas soal itu.

Belum lagi kalau sudah bawa-bawa perasaan. Wah, itu mah alamat pulang subuh.

Bahkan meskipun sudah bilang setuju saja, kadang perdebatan tetap jalan terus. Itu yang bikin kami bingung. Sudah diiyain saja masih dikejar, apalagi kalau dikasih perlawanan sedikit.

Laki-laki itu simpel. Kalau ada masalah, pengennya cepat selesai. Makanya "sepakat" itu dipakai buat memotong jalur supaya nggak perlu ada baku hantam kata-kata. Apalagi kalau lawan bicaranya perempuan yang sudah punya argumen sekuat beton.

Betul kan suami-suami dan bapak-bapak ?

Pesaing Berat Kata "Terserah"

Saya rasa kata "sepakat" ini sebenarnya adalah lawan tanding buat kata "terserah" yang biasa diucapkan perempuan.

Bedanya, kalau perempuan bilang "terserah" itu artinya perang baru dimulai dan kami diminta menebak ranjaunya ada di mana saja.

Tapi kalau laki-laki bilang "sepakat", itu artinya bendera putih sudah dikibar tinggi-tinggi. Kami menyerah demi kesehatan mental bersama.

Ini semacam gencatan senjata. Kami tahu kalau diteruskan, ujung-ujungnya paling kami yang minta maaf padahal nggak tahu salahnya di mana.

Menghargai Kapasitas Diri

Memang benar kok, kalau kami harus membayangkan diri jadi perempuan itu berat banget. Jangankan membayangkan sakitnya melahirkan, membayangkan sakitnya menstruasi aja udah nggak kuat.

Jadi ketika Najwa bilang begitu, ya memang ada benarnya. Kami mengakui kehebatan itu. Ini bukan soal siapa yang kuat atau lemah. Kita masing-masing punya porsi sendiri.

Pada akhirnya, keheningan yang kami cari dan stamina yang mereka punya itu sebenarnya saling melengkapi. Kami belajar untuk lebih banyak mendengarkan.

Kalau memang sudah nggak sanggup lagi buat mikir, ya senjata paling ampuh ya cuma satu: "Sepakat."

Akhir Dari Segala Urusan

Lucu saja melihat bagaimana satu kata simpel bisa jadi ramai lagi sekarang. Mungkin banyak laki-laki di luar sana yang merasa diwakili sama satu kata itu.

Kita semua pernah ada di posisi di mana kita cuma bisa diam terus mengiyakan apa pun yang diomongin pasangan atau lawan bicara agar tidak ada konflik.

Itu tindakan yang membutuhkan kekuatan besar loh, buat menelan semua bantahan di lidah cuma demi melihat situasi yang tenang. (*)

Lebih baru Lebih lama