Sebagai orang yang suka ngirit saat jalan-jalan, saya paham betul godaan hemat ekstrem itu rasanya seperti apa. Siapa sih yang nggak mau sampai ke tanah suci dengan modal setara UMP Jakarta sebulan?
Tapi konten “5 juta dari Blok M ke Mekkah” ini lebih terasa seperti “hanya
konten” daripada rencana perjalanan yang masuk akal.
Kontennya sih nggak salah, hanya misleading.
Masalahnya
bukan soal seberapa tangguh kita sanggup berganti-ganti
transportasi atau
seberapa irit kita bisa cari tiket promo, tapi ada tembok-tembok birokrasi
dan realitas fisik yang tidak bisa ditembus hanya dengan semangat.
Visa: Tembok Pertama yang Tidak Bisa Dinego
Mari kita
bicara soal hal paling mendasar. Untuk menginjakkan kaki di Arab Saudi
atau negara manapun,
kita butuh visa. Ini bukan tiket masuk pasar malam yang bisa ditawar atau
dicarikan promo "buy 1 get 1". Visa ini adalah syarat mutlak, dan
biayanya ditentukan langsung oleh pemerintah di sana.
Di sinilah
letak kemustahilan pertamanya:
- Visa elektronik turis Arab Saudi (single entry): sekitar USD 200–270 ≈ Rp3–4 juta per orang (bisa naik kalau pakai layanan agen).
- Paspor lengkap & foto: sekitar Rp350–650 ribu (bila paspor baru).
- Vaksin meningitis (syarat wajib): ± Rp300 ribu.
Begitu kita
membayar biaya visa yang sudah sepaket dengan asuransi kesehatan wajib, modal 5
juta tadi langsung terpangkas habis-habisan.
Sisa uang
yang ada di dompet kita seketika menjadi sangat tidak masuk akal untuk menempuh
perjalanan lintas negara. Uang sisa itu harus dipakai untuk menyeberangi samudera,
melewati imigrasi beberapa negara, dan berpindah-pindah moda transportasi.
Secara logika, sisa uang tersebut bahkan mungkin tidak cukup untuk bertahan hidup layak di bandara transit, apalagi untuk membeli tiket pesawat jarak jauh.
Estafet Transportasi yang Terlalu Optimis
Dalam
konten-konten tersebut, perjalanannya terlihat mudah: tinggal pindah dari
TransJakarta ke pesawat, lalu ke kereta, lalu ke bus. Tapi ingat, setiap kali
kita berpindah moda transportasi, ada biaya yang harus keluar.
Kalaupun
kita berhasil mendapatkan tiket pesawat promo yang harganya "ajaib"
dari Malaysia ke Jeddah, jangan lupa kalau kita harus sampai ke Malaysia dulu
dari Jakarta. Setiap langkah kaki kita keluar dari Indonesia itu butuh biaya.
Makan di perjalanan, biaya administrasi di bandara, sampai transportasi lokal
menuju penginapan transit itu semua kalau dijumlahkan akan menghabiskan
"napas" keuangan kita.
Menganggap
bahwa sisa uang dari modal 5 juta tadi bisa menutupi semua biaya estafet ini
adalah sebuah bentuk optimisme yang berbahaya.
Rute:
Jakarta (CGK) → Jeddah (JED), lalu darat ke Mekkah (sekitar 1 jam).
- Tiket PP ekonomi normal (bukan promo): Rp15–20 juta per orang, tergantung waktu keberangkatan dan maskapai.
- Tiket promo bisa turun ke ±Rp9–12 juta, tapi biasanya terbatas dan di tanggal‑tanggal kurang musiman.
Risiko "Satu Salah, Semua Bubar"
Yang paling
mengerikan dari rencana budget mepet ini adalah tidak adanya ruang untuk
kesalahan. Dalam perjalanan jauh, apalagi yang melibatkan banyak transit,
keterlambatan adalah hal biasa. Pesawat bisa telat, kereta bisa mogok, atau
proses imigrasi bisa memakan waktu berjam-jam.
Pada perjalanan normal, kita mungkin punya dana cadangan kalau harus beli tiket pengganti atau menginap ekstra. Tapi dengan modal 5 juta yang sudah habis buat visa dan tiket awal, satu saja keterlambatan terjadi, perjalanan kita selesai. Kita akan terjebak di negeri orang tanpa sisa uang untuk lanjut, dan tanpa sisa uang untuk pulang. Ini bukan lagi perjalanan ibadah, tapi jadi misi penyelamatan diri sendiri.
Kelelahan yang Mengalahkan Niat Ibadah
Pernah tidak
kalian merasa lelah sekali setelah perjalanan jauh sampai-sampai mau bicara
saja malas? Nah, bayangkan rasa lelah itu dikali sepuluh karena kita harus
melewati belasan jam transit dengan fasilitas seadanya demi menghemat uang.
Tujuan utama
ke Mekkah adalah biasanya untuk ibadah, untuk fokus, untuk berdoa dengan tenang. Kalau
sampai di depan Ka’bah dalam kondisi badan gemetar karena kurang makan dan pikiran stres
karena memikirkan sisa uang yang tinggal beberapa lembar, apakah kita masih
bisa fokus? Memaksakan angka 5 juta untuk perjalanan sejauh itu adalah tindakan
yang mengorbankan kualitas ibadah itu sendiri.
Intinya, konten "5 juta ke Mekkah" itu mungkin bagus untuk jumlah views dan likes, tapi sangat buruk untuk dijadikan panduan perjalanan nyata.
Lebih baik kita
realistis: menabung sedikit lebih lama atau mencari cara hemat yang masih masuk
akal, daripada nekat berangkat dengan anggaran yang secara hitungan matematika
saja sudah mustahil. (*)

