
Sekarang ini apa pun bisa dipoles supaya kelihatan cantik, suci, dan layak dipuja. Jangankan manusia, ikan sapu-sapu yang jadi hama saja sekarang ada tim hore-nya di media sosial.
Fenomena buzzer dan influencer ini benar-benar sudah sampai ke tahap yang nggak logis. Mereka bisa membuat sesuatu yang sebenarnya merusak jadi seolah-olah penyelamat dunia.Ikan Sapu-Sapu dan Pasukan Sorak Digital
Ikan sapu-sapu yang berpotensi jadi spesies invasif ini tiba-tiba dibela mati-matian oleh akun-akun yang polanya mirip sekali dengan "buzzer".Mereka mencoba membangun narasi kalau ikan ini adalah pahlawan lingkungan. Padahal kalau mau logika sedikit saja, ikan ini justru merusak ekosistem asli.
Tapi ya begitulah cara kerja mereka: ambil satu sisi yang kelihatannya bagus, bungkus dengan kata-kata manis, lalu sebarkan lewat influencer yang pengikutnya cuma bisa manggut-manggut tanpa cek fakta.
Ini bukan soal ikannya, tapi soal bagaimana opini publik digoreng sedemikian rupa. Siapa pun yang punya uang atau kepentingan bisa menyewa "tukang ketik" buat mengubah persepsi orang.
Masalahnya, banyak netizen Indonesia yang gampang sekali kena tipu. Asal yang ngomong punya pengikut banyak atau bahasanya sok ilmiah, langsung percaya kalau ikan sapu-sapu itu Cuma “korban”. Padahal itu cuma menutupi masalah yang lebih besar.
Belajar dari Penanganan Kucing Liar di Australia
Kalau mau lihat contoh nyata bagaimana sesuatu yang kelihatannya lucu atau "tidak berbahaya" bisa jadi bencana besar kalau tidak dikelola dengan akal sehat, coba tengok Australia.Di sana, mereka punya masalah serius dengan kucing liar alias feral cats. Menurut data resmi dari Department of Climate Change, Energy, the Environment and Water (DCCEEW) pemerintah Australia tahun 2024, kucing-kucing ini membunuh lebih dari 1,5 miliar mamalia, burung, dan reptil setiap tahunnya. Kucing liar ini sudah bikin punah lebih dari 20 spesies mamalia asli sana.
Di Australia, pemerintahnya tegas. Mereka bilang kucing liar itu predator invasif, titik. Tidak ada itu narasi "kasihan" yang berlebihan sampai mengabaikan kehancuran ekosistem.
Tapi kalau masalah ini dibawa ke Indonesia dan para buzzer/influencer mulai ikut campur. Pasti narasinya jadi beda. Mereka akan bikin konten estetik tentang "kucing mandiri yang bertahan hidup di alam liar" lengkap dengan musik sedih, tanpa peduli kalau kucing itu sedang menghabisi spesies langka. Itulah bedanya fakta sains dengan konten demi engagement.
Bahayanya Opini yang Dibeli
Masalah utama dari buzzer dan influencer yang asal bunyi ini adalah mereka menciptakan standar ganda. Di satu sisi kita disuruh peduli lingkungan, tapi di sisi lain kita dicekoki informasi sampah yang cuma menguntungkan pihak tertentu.Ikan sapu-sapu tadi misalnya, kalau dianggap mereka cuma ingin hidup, maka habislah populasi ikan lokal dan rusaknya ekosistem di sungai.
Sama seperti kucing liar di Australia, kalau masyarakat di sana lebih dengerin influencer "pencinta anabul" yang radikal daripada ilmuwan lingkungan, mungkin dalam sepuluh tahun ke depan hewan di Australia cuma ada kucing.
Beruntung di sana logika masih lebih laku daripada konten FYP. Di sini? Kita masih sering terjebak di tahap "yang penting viral dulu, benar atau salah urusan belakangan".
Berhenti Jadi Pengikut Buta
Influencer itu bukan nabi, dan buzzer itu cuma orang yang dibayar buat teriak. Mereka tidak punya beban moral kalau informasi yang mereka sebarkan itu menyesatkan atau bikin ekosistem rusak.Mereka cuma peduli sama jumlah klik dan transferan di akhir bulan. Kalau mereka bilang ikan sapu-sapu itu bagus buat sungai, atau mereka bilang masalah lingkungan itu sepele, jangan langsung ditelan bulat-bulat.
Kita harus mulai membiasakan diri riset kecil-kecilan. Pakai itu jempol buat cari data dari sumber yang jelas, bukan cuma baca caption singkat di Instagram atau link di Twitter yang penuh bumbu drama.
Dunia ini sudah cukup rusak tanpa perlu ditambah dengan kebodohan kolektif yang dipandu oleh orang-orang yang merasa paling tahu padahal cuma jualan citra.
Kalau kita tetap diam dan ikut-ikutan jadi pemandu sorak buat narasi bodoh mereka, ya jangan kaget kalau nanti anak cucu kita cuma tahu ikan sapu-sapu sebagai satu-satunya penghuni sungai kita yang hitam pekat itu. (*)
Tags:
Ekosistem Sungai
Fenomena Buzzer
Ikan Sapu-Sapu
Kucing Liar Australia
Opini Publik
Spesies Invasif