Sering kali saya perhatikan, di Indonesia ada kecenderungan di antara kita yang merasa untuk berislam secara total, maka penampilan pun harus berubah total menjadi sangat Arab.
Seolah-olah menjadi muslim yang baik itu satu paket dengan memakai jubah, sorban, atau mengganti cara bicara dengan menyelipkan istilah-istilah yang sebenarnya bisa disampaikan dengan bahasa kita sendiri. Padahal kita ini orang Indonesia yang agamanya Islam, bukan orang Arab yang pindah ke nusantara.
Islam itu
agama yang turun untuk seluruh alam, bukan cuma untuk satu suku atau bangsa
tertentu. Nabi Muhammad SAW memang orang Arab, dan beliau memakai pakaian orang
Arab pada masanya. Tapi perlu kita sadari bahwa yang beliau pakai adalah pakaian budaya
masyarakat di sana, bukan seragam wajib bagi setiap orang yang bersyahadat.
Kalau merasa harus memakai gamis setiap hari supaya merasa lebih saleh, mungkin kita perlu bertanya lagi ke dalam diri sendiri: apakah itu tuntutan iman atau sekadar keinginan visual agar terlihat religius?
Menutup Aurat Tak Harus Menjadi Orang Arab
Identitas
kita sebagai orang Indonesia itu sudah sangat kuat dan tidak ada yang salah
dengan itu. Kita punya sarung, batik, baju koko yang sebenarnya sudah sangat
menutup aurat dengan sempurna.
Menutup
aurat adalah perintah agama, tapi model pakaiannya itu adalah wilayah budaya.
Kalau saya memakai kemeja dan celana panjang yang longgar, aurat saya
sudah tertutup.
Kalau saya memakai batik ke masjid, saya sopan dan rapi. Tidak ada kewajiban bagi saya untuk berubah menjadi orang Arab hanya karena ingin menjalankan sunah.
Masalahnya,
banyak yang salah kaprah menganggap budaya Arab adalah bagian dari syariat.
Padahal Islam tidak datang untuk menghapus budaya lokal selama tidak
bertentangan dengan prinsip tauhid.
Orang
Prancis yang muslim tetap orang Prancis, orang Afrika tetap orang Afrika, dan kita orang
Indonesia harusnya tetap bangga dengan ke-Indonesia-an kita. Tidak perlu merasa
kurang islami hanya karena tidak memakai pakaian ala Arab.
Justru keindahan Islam itu terlihat ketika ia bisa masuk ke berbagai budaya tanpa harus mencabut akar identitas bangsa tersebut.
Menghargai Warisan Nusantara
Saya melihat
banyak orang yang merasa bahwa segala hal yang berbau lokal itu kurang islami.
Padahal, Islam yang masuk ke Indonesia dulu itu justru lewat pendekatan budaya yang
lembut, bukan dengan pemaksaan gaya hidup padang pasir.
Para ulama terdahulu paham betul bahwa agama adalah soal hati dan perilaku, bukan soal kostum panggung.
Tuhan itu melihat apa yang ada di dalam hati kita, bukan seberapa panjang jubah kita atau seberapa lebar kain yang kita lilitkan di kepala. Apa gunanya berpakaian seperti orang Arab kalau kelakuannya tidak mencerminkan Islam, atau masih sering merasa lebih suci daripada orang lain? Fokus pada kostum sering kali membuat kita lupa pada inti ajaran Islam, yaitu akhlak.
Berislam dengan Nyaman di Negeri Tropis
Rasanya aneh
kalau kita harus memaksakan diri menggunakan pakaian yang sebenarnya tidak
cocok dengan iklim kita yang tropis dan lembap ini.
Kita punya cara berpakaian sendiri yang nyaman dan tetap syar'i. Menggunakan identitas lokal bukan berarti kita tidak mencintai Nabi. Mencintai Nabi itu dengan mengikuti kejujuran, amanah, dan kasih sayang beliau kepada sesama manusia.
Kita tidak
perlu kehilangan jati diri untuk menjadi hamba yang taat. Menjadi muslim yang
baik di Indonesia berarti menjadi orang Indonesia yang jujur dan taat
beribadah. Tidak perlu ada rasa rendah diri kalau kita tidak bergaya
kearab-kearaban. Islam itu luwes dan tidak menuntut kita untuk menjadi orang
lain.
Mari kita
tetap menjadi orang Indonesia yang religius, yang membumi dengan budaya
sendiri. Kita bisa sujud kepada Allah dengan menggunakan sarung atau batik
tanpa harus merasa bahwa ibadah kita kurang sah dibanding mereka yang memakai jubah. (*)
