Kita semua pasti pernah dengar cerita soal kejadian yang bikin para pemilik bisnis kuliner sering elus dada sambil garuk kepala. Ada yang memproklamirkan dirinya sebagai influencer, makan di restoran, tapi pas waktunya bayar, eh, yang disodorin bukan kartu debit atau uang tunai, melainkan jumlah followers di Instagram. Ajaib, bukan?
Sekarang kita akan melihat POV si pemilik bisnis. Misalnya namanya Pak Bambang. Pak Bambang ini bangun jam empat pagi, pergi ke pasar demi nyari bahan baku yang paling segar, bayar sewa tempat yang harganya makin mahal, belum lagi pusing mikirin THR karyawan yang sudah dekat.
Terus datanglah seorang anak muda dengan kamera canggih, duduk manis, pesan menu paling mahal dari pembuka sampai penutup, lalu dengan santainya bilang ke kasir, "Mbak, saya sudah tag di Story ya, jadi ini barteran kan?"
Pertanyaannya sederhana saja, sejak kapan jumlah follower berubah jadi alat pembayaran yang sah menurut Bank Indonesia?
Logika yang Agak Melintir
Pak Bambang beli beras, bayar listrik, bayar gaji pakai rupiah. Kalau ada orang makan cuma bayar pakai "konten", Pak Bambang mau bayar apa ke tukang beras? Apa dia harus bilang, "Pak, ini saya bayar pakai tangkapan layar ya, lihat nih yang like foto nasi goreng saya sudah seribu orang!"?
Saya yakin, kalau Pak Bambang nekat begitu, dia bakal dilempar timbangan sama pedagang pasarnya.
Si "influencer" ini bakal bilang, "Lho, tapi kan ini membantu promosi tempat makannya?"
Wah, mulia sekali niatnya. Tapi masalahnya, banyak yang ngaku-ngaku influencer ini sebenarnya cuma mau makan enak tanpa keluar modal. Mereka merasa kehadiran mereka itu sebuah anugerah buat si pemilik resto.
Padahal konten yang dibuat isinya cuma video transisi jedag-jedug sepuluh detik yang isinya cuma dia berkata (kata sifat + banget).
"Enak banget, gurih banget, ngaldu banget, murah banget, dan banget-banget lainnya."
Terus pemilik resto harus ikhlas kehilangan pendapatan hari itu demi video yang besok pagi juga sudah hilang dari ingatan orang?
Antara Promosi dan Malak Halus
Sebenarnya sih pemilik bisnis itu nggak anti-sosmed. Mereka tahu kok kekuatan internet. Kalau memang konten si influencer itu bagus, informatif, dan punya pengaruh nyata, pemilik resto justru yang bakal mencari. Mereka bakal kirim undangan resmi, memberi kompensasi layak, dan semuanya diatur secara profesional. Itu namanya kerja sama bisnis.
Tapi kalau strateginya adalah datang tiba-tiba, makan sekenyang-kenyangnya, baru ngomong soal barter pas tagihan datang... itu namanya bukan kolaborasi, itu namanya malak.
Jangan lupa, viewer itu sudah bisa membedakan mana yang beneran merekomendasikan karena makanannya enak, sama yang bilang enak banget karena dapet gratisan.
Kalau semua tempat dibilang enak demi konten barteran, lama-lama kredibilitas si pembuat konten itu habis. Ujung-ujungnya, pemilik resto juga yang rugi karena orang datang tapi merasa tertipu sama ulasan yang lebay itu.
Menghargai Seporsi Makanan
Di balik seporsi makanan, ada koki yang berkeringat di depan kompor panas. Ada pelayan yang kaki-kakinya pegal karena harus bolak-balik memastikan meja kalian bersih. Ada pemilik bisnis yang tidurnya nggak nyenyak setiap malam mikirin cara biar usahanya nggak gulung tikar.
Lantas nilai semua kerja keras itu mau diganti sama satu postingan Instagram? Agak gimana gitu ya kedengarannya.
Si pemilik bisnis ini bukannya pelit. Dia pasti senang kalau ada yang foto makanannya terus diunggah karena memang suka. Tapi tolonglah, hargai prosesnya. Bayar dulu apa yang kamu makan.
Kalau memang mau kerja sama, bicarakan baik-baik di awal secara profesional, bukan pas piring sudah licin baru keluar jurus "saya punya followers sepuluh ribu".
Buat para pejuang konten, mendingan simpan dulu kamera/hapenya kalau memang dompet lagi tipis. Karena di dunia nyata, tagihan itu dibayar pakai uang, bukan pakai jumlah viewers.
Kalau mau bantu bisnis mereka, cara paling gampang adalah dengan jadi pelanggan yang jujur dan tahu cara menghargai jerih payah orang lain. (*)
