Dilema Budaya: Saat Idealisme Terbentur Biaya Kontrakan

Mengapa Anak Muda Menjauh dari Warisan Indah

Kenapa sih anak-anak muda zaman sekarang kurang tertarik jadi pembatik, penari tradisional, atau pelestari budaya


Jawabannya bikin kita mengernyitkan dahi. Ini bukan soal mereka tidak peduli atau lupa akan identitasnya, tapi lebih ke cerminan dari ekosistem yang selama ini dibangun, atau lebih tepatnya, yang kurang dibangun.

 

Realita di Balik Tirai Bangga Berbudaya

 

Kita sering lihat di media sosial, pada bangga memakai batik di acara formal, mengunggah foto dengan caption "Cinta Indonesia!" atau "Lestari Budayaku!". 


Bagus sih, tapi pernahkah kita bertanya bagaimana kabar si pembuat batik itu? Apakah dia hidup layak? Apakah pekerjaannya dihargai sesuai dengan jerih payahnya?

 

Di negeri ini, para penjaga tradisi itu ditempatkan bukan sebagai seorang profesional yang berhak atas kehidupan yang layak, melainkan sebagai "simbol". 


Mereka disuruh bangga, disuruh ikhlas demi melestarikan budaya, seolah-olah pengorbanan itu adalah bagian tak terpisahkan dari pekerjaan mereka. Sementara urusan perut seringkali dikesampingkan.

 

Contohnya proses pembuatan selembar kain batik tulis. Bisa berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, penuh ketelitian, kesabaran, dan tentu saja passion


Setiap titik, setiap garis, adalah ekspresi dari dedikasi yang mendalam. Tapi upah yang mereka terima kadang-kadang tidak cukup untuk menutupi kebutuhan hidup mereka selama sebulan penuh. 


Bagaimana mungkin seseorang bisa terus berkarya dengan maksimal kalau kebutuhan dasarnya saja tidak terpenuhi?


membatik 

Idealisme Tidak Membayar Kontrakan

 

Ini adalah kalimat yang mungkin terdengar pahit, tapi sangat relevan: cinta budaya tidak bisa membayar kontrakan, dan idealisme tidak bisa mengisi perut yang lapar. 


Saya rasa semua setuju dengan itu. Anak muda punya impian, punya kebutuhan. Mereka melihat teman-teman mereka yang bekerja di sektor lain, dengan jam kerja yang teratur dan gaji yang pasti, mampu menata hidup dengan lebih baik. Wajar kalau mereka akhirnya memilih jalur yang berbeda.

 

Bukan berarti mereka tidak mencintai budaya. Bisa jadi, di hati kecil mereka, ada kerinduan untuk bisa terlibat. Tapi ketika dihadapkan pada pilihan sulit antara idealisme dan realita hidup, sebagian besar pasti akan memilih realita. 


Budaya yang hanya kita kagumi sebagai pajangan, tanpa menyejahterakan para pelakunya, pelan-pelan akan kehilangan napasnya. Itu sebuah keniscayaan.

 

Kita sebagai masyarakat, seringkali hanya melihat hasil akhirnya. Sepotong batik yang indah, sebuah tarian yang memukau, atau alunan musik tradisional yang syahdu. 


Kita berdecak kagum, memuji keindahannya. Tapi kita lupa, atau mungkin sengaja melupakan, ada tangan-tangan yang menciptakannya, ada keringat yang menetes, dan ada pengorbanan di baliknya.

 

Kita Gagal Menciptakan Ekosistem yang Adil

 

Kalau hari ini kita melihat anak muda menjauh dari membatik, menari, atau menjadi pewaris tradisi, mungkin ini bukan tanda bahwa mereka tidak peduli. 


Justru ini adalah tanda yang jelas bahwa kita sebagai masyarakat dan pemangku kepentingan, telah gagal menciptakan sebuah ekosistem yang adil dan berkelanjutan bagi para pelaku budaya.

 

Ekosistem yang adil itu bukan hanya tentang panggung untuk tampil atau pameran untuk menjual. Ini tentang jaminan hidup yang layak, tentang penghargaan yang pantas atas keahlian dan kerja keras, tentang akses terhadap pendidikan dan pengembangan diri, serta tentang pengakuan bahwa melestarikan budaya adalah sebuah profesi yang sama mulianya dengan profesi-profesi lainnya.

 

Penting untuk kita semua mulai berpikir serius. Bagaimana caranya agar para pembatik bisa hidup sejahtera? Bagaimana penari tradisional bisa mendapatkan jaminan hari tua? Bagaimana musik tradisional bisa menjadi pilihan karier yang menjanjikan, bukan sekadar hobi sampingan? 


Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga kita semua sebagai konsumen, pengusaha, dan masyarakat.

 

Sudah saatnya kita mengubah narasi. Dari sekadar "bangga memakai" menjadi "bangga menyejahterakan". Dari "melestarikan budaya" menjadi "melestarikan manusianya". 


Hanya dengan begitu, warisan budaya kita akan terus hidup, relevan, dan terus menarik minat generasi muda untuk terlibat, bukan karena terpaksa, tapi karena memang melihat masa depan di sana.  (*)

Lebih baru Lebih lama