Tarif 'Nembak' Ojol Usai Konser, Saat Hukum Pasar Berbentur dengan Etika Mencari Rezeki

Selesai konser, seperti Blackpink di GBK kemarin, semua orang pasti tahu drama klasik yang selalu terulang: ojek online (ojol) mematikan aplikasi, lalu menawarkan tarif "tembak" yang bikin dompet menangis. 

Ini bukan sekali dua kali. Setiap ada event besar, apalagi konser yang selesai tengah malam di lokasi yang minim transportasi umum lain, fenomena ini pasti muncul. 

Ini bukan sekadar kenaikan tarif wajar karena surge pricing aplikasi, lho. Ini adalah tarif negosiasi personal yang harganya bisa berkali-kali lipat dari harga aplikasi paling mahal sekalipun. Bisa sampai ratusan ribu rupiah untuk jarak yang mestinya hanya puluhan ribu. Realitasnya memang sekejam itu. 

Hukum Pasar vs. Etika Mencari Rezeki 

Perdebatan utamanya selalu berada di dua kutub yang saling bertolak belakang. Satu sisi bilang, ini murni hukum pasar. Permintaan saat itu melonjak gila-gilaan, sementara stok driver yang bersedia masuk ke tengah kerumunan massa sangat terbatas, apalagi sudah larut malam.

Itu adalah momen langka. Dalam ekonomi, kelangkaan bertemu permintaan tinggi hasilnya pasti harga melambung. Para ojol ini melihat celah rezeki besar yang cuma ada beberapa jam pada hari itu.

Mereka merasa wajar mengambil untung maksimal dari kesempatan emas tersebut. Mereka berargumen, mereka mempertaruhkan waktu, tenaga, dan harus menghadapi macet parah plus kerumunan massa yang bikin sulit bergerak. Jadi kenaikan harga itu sebanding dengan risiko dan kesulitan yang mereka hadapi. 

Di sisi lain, banyak yang merasa ini bentuk eksploitasi dan kecurangan. Ini bukan lagi soal rezeki, tapi memanfaatkan posisi rentan orang lain.

Penonton konser sudah lelah dan ingin segera pulang, terjebak di antara ribuan orang dan transportasi umum yang super padat. 

Mereka tidak punya pilihan. Harga tiket konser sudah mahal, masa pulang harus diperas lagi? Ini yang membuat kesal. Kenaikan harga jadi terasa tidak etis, seolah para ojol ini berubah menjadi "pemangsa" di momen darurat. 

Mengapa Ojol Merasa Perlu Nembak Harga? 

Alasan utamanya seringkali kembali ke hitungan pendapatan. Mereka berjuang dengan potongan komisi aplikator yang mereka anggap terlalu besar. Pendapatan bersih mereka terkadang tidak sebanding dengan usaha yang dikeluarkan, terutama di jam-jam padat. 

Saat selesai konser, surge pricing di aplikasi mungkin naik, tapi para ojol merasa kenaikan itu tetap tidak sepadan dengan drama yang mereka hadapi.

Masuk ke lokasi macet parah, mencari penumpang di tengah ribuan orang, bahkan mungkin berisiko dapat penalti dari aplikator karena lama menjemput. 

Dengan menembak harga, mereka bisa mendapatkan pendapatan utuh, tanpa potongan komisi, dan nominalnya jauh lebih tinggi. Mereka melihat ini sebagai bentuk kompensasi atas semua kesulitan yang mereka rasakan. Bagi mereka, ini adalah saatnya mereka yang menentukan harga untuk pekerjaan mereka sendiri. 

Harus Ada Titik Tengah yang Adil 

Mencaci maki ojol juga rasanya kurang bijak. Kita harus mengakui bahwa situasi itu tercipta karena ada ketidakseimbangan yang lebih besar.

Aplikator punya kuasa penuh untuk menyediakan solusi transportasi yang memadai di saat-saat puncak permintaan.

Mungkin aplikator bisa menaikkan surge pricing aplikasi secara drastis saat ada event besar, tapi pastikan juga sebagian besar kenaikan itu benar-benar masuk ke kantong pengemudi, bukan hanya menguntungkan perusahaan. Dengan begitu, pengemudi akan terdorong untuk tetap menggunakan aplikasi dan tarif yang tertera menjadi adil bagi semua pihak. 

Di sisi lain, konsumen juga perlu lebih siap menghadapi situasi ini. Konser di GBK, atau manapun, sudah pasti masalah transportasi Ketika pulang akan terjadi. 

Siapkan dana lebih untuk kemungkinan terburuk atau pertimbangkan rencana alternatif, misalnya naik taksi yang tarifnya lebih mahal, keluar lebih dulu sebelum konser berakhir, atau berjalan kaki lebih jauh ke area yang minim keramaian. 

Intinya, fenomena "tembak harga" pasca konser ini menunjukkan adanya masalah sistemik di mana kesejahteraan pengemudi dan kenyamanan penumpang belum terlindungi secara maksimal di bawah skema platform digital. 

Selama tidak ada regulasi yang benar-benar adil dan responsif terhadap situasi darurat permintaan, drama ini pasti akan terus terulang di acara-acara besar selanjutnya. (*)

Lebih baru Lebih lama