Gerung: Dari Garang Jadi Girang Lalu Garing

Gerung Dari Garang Jadi Girang Lalu Garing

Dulu dia paling nyaring ngomong soal akal sehat. Saban hari nongol di TV, mengkritik pemerintah, sambil teriak-teriak "dungu" buat siapa saja yang dianggap gagal memahami cara berpikirnya.

Banyak orang kagum. Banyak juga yang merasa dia mewakili suara mereka yang sudah muak dengan penguasa.

Tapi ketika situasi berubah dan dia mendapat panggung baru di sekitar kekuasaan, nadanya ikut berubah. Yang dulu garang sekarang kelihatan lebih girang.

Fenomena seperti ini bukan barang baru. Di politik Indonesia, ada pola yang sering berulang: teruslah mengkritik sampai kamu dilantik, atau setidaknya sampai kamu diajak makan malam.

Bukan Soal Ideologi, Tapi Soal Kursi

Fans Rocky Gerung mungkin melihatnya sebagai orang yang bertindak demi kebenaran dan punya standar etika tinggi. Menurut saya, pandangan seperti itu terlalu sederhana.

Di panggung politik dan media, kritik juga bisa menjadi alat tawar. Ketika seseorang berada di luar sistem, menyerang orang-orang di dalam sistem adalah cara yang efektif untuk mendapatkan perhatian, membangun pengaruh, sekaligus menaikkan nilai tawar.

Begitu kritik itu berhasil membuat penguasa terganggu, ada pilihan lain yang tersedia: merangkul si pengkritik.

Di titik itu, kita bisa melihat apakah kritik tadi memang berdiri di atas prinsip atau sekadar bergantung pada posisi.

Masalahnya muncul ketika serangan yang dulu begitu keras berubah menjadi senyum, tawa, dan pemakluman setelah posisi si pengkritik berubah.

Kalau perubahan sikap itu terjadi tanpa penjelasan prinsip yang jelas, wajar kalau orang bertanya apakah yang berubah memang pemikirannya atau cuma tempat duduknya.

Standar Ganda Makin Kelihatan

Ketika lawan politik melakukan kesalahan, kritik bisa sangat personal. Kesalahan seorang pejabat bisa dibaca sebagai bukti kegagalan sistem, kebodohan struktur, atau buruknya cara berpikir.

Tetapi ketika orang yang dekat atau sejalan melakukan kesalahan serupa, reaksinya bisa berbeda. Tiba-tiba muncul penjelasan, konteks, atau alasan yang membuat kesalahan itu terdengar lebih bisa dimaklumi.

Kalau pola itu benar-benar terjadi, masalahnya bukan lagi soal siapa yang benar dan siapa yang salah. Masalahnya ada pada standar yang dipakai.

Kamu tidak bisa mengaku sebagai pengawal akal sehat kalau ukuran yang digunakan berubah tergantung siapa yang sedang dinilai.

Kalau kesalahan A disebut kebodohan, sementara kesalahan B yang mirip disebut dinamika politik, berarti prinsipnya sudah mulai lentur. Kritik akhirnya lebih mirip posisi politik daripada standar yang berlaku untuk semua orang.

Kenapa Masih Banyak yang Kagum?

Orang menyukai Rocky Gerung bukan selalu karena memahami seluruh argumennya. Sebagian mungkin memang menikmati gaya bicaranya yang tajam, istilah filosofisnya, dan keberaniannya menyerang pejabat atau politisi di depan kamera.

Ada kepuasan tersendiri ketika seseorang yang dianggap pintar bisa membungkam lawan dengan kalimat yang terdengar rumit.

Tapi gaya bicara tidak otomatis membuktikan konsistensi.

Seseorang bisa terdengar sangat filosofis, tetapi tetap memiliki standar yang berubah tergantung kepentingannya. Sebaliknya, orang yang berbicara sederhana belum tentu tidak punya prinsip.

Di sinilah saatnya berhenti menjadikan figur publik sebagai paket lengkap yang harus dibela apa pun yang dilakukan.

Kamu boleh mengagumi cara seseorang berdebat tanpa harus membeli seluruh pandangan politiknya.

Prinsip yang Berlaku Sesuai Kebutuhan

Coba lihat kembali berbagai isu yang pernah menjadi bahan kritiknya. Ketika isu-isu tersebut digunakan untuk menyerang lawan politik, standar yang dipakai bisa terdengar sangat mutlak.

Pertanyaannya kemudian sederhana: apakah standar itu tetap digunakan ketika aktornya berganti?

Kalau iya, tidak ada masalah.

Kalau tidak, kritik tersebut layak dipertanyakan.

Filosofi tidak perlu berubah hanya karena orang yang sedang dibicarakan berubah. Kalau tindakan yang sama dinilai berbeda karena pelakunya teman atau lawan, kita sudah masuk ke wilayah politik praktis.

Itu sah saja. Semua orang boleh berpolitik.

Yang menjadi masalah adalah ketika politik praktis tetap dibungkus sebagai perjuangan intelektual yang seolah-olah bebas kepentingan.

Jangan Mendewakan Pengkritik

Saya sih bodo amat dengan Rocky Gerung mau join kemana. Bukan fansnya. Saya hanya mau ngomong, jangan percaya penuh kepada figur publik hanya karena dia pintar bicara di depan kamera. Siapa pun itu.

Lihat apa yang dia lakukan ketika posisi politiknya berubah. Lihat apakah standar yang dulu dia gunakan untuk menghakimi orang lain masih dia gunakan terhadap orang-orang yang sekarang dekat dengannya.

Kalau seorang pengkritik mendadak lebih ramah setelah mendapatkan akses dan panggung dari kekuasaan yang dulu dia serang, publik berhak mempertanyakan konsistensinya.

Bukan karena seorang pengkritik tidak boleh berubah.

Tetapi karena perubahan sikap juga perlu dipertanggungjawabkan.

Lebih baru Lebih lama