Istilah flying car atau mobil terbang sering kali disalahartikan. Saya ambil contoh kendaraan seperti Xpeng X2 atau EHang. Jika dilihat dari struktur fisik dan cara kerjanya, kendaraan tersebut adalah eVTOL (electric Vertical Take-Off and Landing). Kendaraan jenis ini sebenarnya merupakan drone berukuran besar yang bisa diisi manusia, tapi bukan sebuah mobil yang bisa terbang.
eVTOL tidak memiliki roda yang terhubung ke mesin untuk berjalan di aspal. Kendaraan ini tidak bisa dipakai berkendara di jalan raya saat macet lalu tiba-tiba terbang begitu saja. Penggunaannya juga sangat bergantung pada infrastruktur khusus bernama vertiport sebagai tempat lepas landas dan mendarat.
Pemiliknya tidak bisa sembarangan memarkir kendaraan ini di garasi rumah atau di area parkir pusat perbelanjaan. Oleh karena itu, penyebutan mobil terbang pada eVTOL modern lebih tepat disebut sebagai strategi pemasaran untuk menarik perhatian masyarakat.
Sebuah kendaraan baru bisa disebut sebagai mobil terbang yang sebenarnya jika memenuhi prinsip dual modality atau memiliki dua mode operasional yang seimbang. Kendaraan tersebut harus berfungsi penuh sebagai mobil biasa ketika berada di jalanan, dan bisa berubah menjadi pesawat yang aman saat berada di udara. Jika salah satu fungsi tersebut hilang, maka kendaraan itu tidak memenuhi syarat dasar sebagai mobil terbang.
Sebuah kendaraan baru bisa disebut sebagai mobil terbang yang sebenarnya jika memenuhi prinsip dual modality atau memiliki dua mode operasional yang seimbang. Kendaraan tersebut harus berfungsi penuh sebagai mobil biasa ketika berada di jalanan, dan bisa berubah menjadi pesawat yang aman saat berada di udara. Jika salah satu fungsi tersebut hilang, maka kendaraan itu tidak memenuhi syarat dasar sebagai mobil terbang.
Kriteria Kendaraan Dua Mode yang Ideal
Untuk membuat kendaraan yang benar-benar berfungsi di dua medan, ada beberapa kriteria mendasar yang harus dipenuhi. Kriteria ini mencakup aspek legalitas di jalan raya, kemampuan transformasi bentuk, dan kemandirian operasional tanpa ketergantungan penuh pada infrastruktur khusus.Legal di Jalan Raya
Kriteria pertama adalah kendaraan harus memenuhi aturan hukum untuk dipakai di jalan umum. Kendaraan ini harus bisa keluar dari garasi rumah, melewati jalan pemukiman, dan masuk ke jalan tol tanpa melanggar aturan lalu lintas. Artinya, dimensi kendaraan saat berada di darat tidak boleh melebihi batas lebar jalur jalan standar agar tidak mengganggu pengguna jalan lain.Selain masalah ukuran, sistem penggerak daratnya juga harus bekerja seperti mobil konvensional. Roda yang dipasang harus digerakkan oleh motor listrik atau mesin utama, memiliki sistem pengereman, dan dilengkapi suspensi untuk meredam guncangan jalan.
Komponen keselamatan standar seperti lampu utama, lampu sein, spion, sabuk pengaman, bumper, dan tempat pemasangan pelat nomor wajib tersedia. Kendaraan ini juga harus lolos uji tabrak jalan raya sebelum diizinkan beroperasi di lingkungan publik.
Mekanisme Perubahan Bentuk
Kriteria kedua adalah adanya sistem transformasi mekanis yang melipat seluruh komponen penerbangan. Saat berada dalam mode darat, bagian sayap, baling-baling, atau rotor harus bisa melipat secara otomatis dan tersimpan rapi di dalam bodi atau merapat ke bagian belakang kendaraan.Hal ini sangat penting agar kendaraan memiliki bentuk yang ringkas saat membaur dengan lalu lintas darat. Tanpa mekanisme lipat yang sempurna, komponen penerbangan yang lebar akan membahayakan kendaraan lain di sekitarnya, terutama saat berhenti di lampu merah atau ketika melewati area jalan yang sempit.
Proses perubahan dari mode mobil ke mode pesawat ini harus bisa dilakukan dengan menekan tombol dari dalam kabin tanpa perlu bantuan mekanik dari luar.
Kemandirian Operasional
Kriteria ketiga berkaitan dengan fleksibilitas penggunaan. Berbeda dengan eVTOL yang pergerakannya terbatas dari satu titik vertiport ke vertiport lain, mobil terbang sejati harus memberikan kebebasan penuh kepada penggunanya. Kendaraan ini dirancang untuk mengatasi kendala operasional akibat perubahan cuaca buruk di udara.Jika di tengah penerbangan terjadi badai atau angin kencang yang berbahaya, pengemudi bisa langsung mendarat di bandara atau lapangan terbang terdekat yang aman. Setelah mendarat, pengemudi cukup mengubah mode kendaraan menjadi mobil, melipat sayapnya, lalu melanjutkan sisa perjalanan menggunakan jalur darat hingga sampai di tujuan akhir. Kemandirian ini membuat perjalanan tidak mudah terhambat oleh keterbatasan fasilitas pendaratan khusus.
Pendekatan Desain yang Ada Saat Ini
Beberapa perusahaan di dunia sudah mencoba membuat kendaraan yang mendekati konsep dasar ini, bukan sekadar membuat drone besar. Proyek-proyek ini memperlihatkan bahwa integrasi antara mobil dan pesawat adalah hal yang mungkin dilakukan, meskipun proses produksinya jauh lebih rumit.Salah satu contohnya adalah AirCar buatan Klein Vision. Kendaraan ini berbentuk mobil sport dengan empat roda yang dilengkapi dengan sayap lipat otomatis di dalam bodinya.
Saat berada di jalan raya, kendaraan ini berjalan menggunakan mesin mobil biasa. Ketika sampai di landasan pacu, sayapnya akan melebar keluar secara mekanis, bagian ekornya akan memanjang ke belakang, dan kendaraan siap lepas landas seperti pesawat terbang ringan.
Contoh lainnya adalah Samson Switchblade. Ini adalah kendaraan roda tiga yang menggunakan konsep sayap lipat yang tersimpan di bawah bodi utama saat digunakan dalam mode berkendara di darat. Pendekatan roda tiga ini dipilih untuk mempermudah penyesuaian regulasi kendaraan di beberapa negara, namun tetap mempertahankan fungsi utama sebagai kendaraan darat dan udara yang praktis.
Contoh lainnya adalah Samson Switchblade. Ini adalah kendaraan roda tiga yang menggunakan konsep sayap lipat yang tersimpan di bawah bodi utama saat digunakan dalam mode berkendara di darat. Pendekatan roda tiga ini dipilih untuk mempermudah penyesuaian regulasi kendaraan di beberapa negara, namun tetap mempertahankan fungsi utama sebagai kendaraan darat dan udara yang praktis.
Tantangan Teknis dalam Rekayasa
Alasan utama mengapa banyak pabrikan lebih memilih mengembangkan eVTOL daripada mobil terbang sejati adalah adanya masalah kompromi teknik yang sangat sulit dipecahkan. Menggabungkan dua fungsi yang bertolak belakang dalam satu kendaraan membutuhkan pengorbanan besar pada performa masing-masing mode.Sebuah mobil membutuhkan struktur bodi yang kuat dan berat demi alasan keselamatan saat terjadi tabrakan di darat. Sebaliknya, sebuah pesawat membutuhkan bobot kendaraan yang seringan mungkin agar bisa terbang secara efisien dan menghemat konsumsi energi.
Ketika kedua kebutuhan ini dipaksakan bersatu, hasil akhir kendaraan sering kali menjadi kurang ideal. Kendaraan tersebut cenderung menjadi mobil yang terlalu berat dan boros di darat, sekaligus menjadi pesawat yang kurang lincah dan memiliki jarak tempuh terbatas saat berada di udara.
Kompromi bobot inilah yang sampai sekarang masih menjadi kendala terbesar bagi perkembangan industri mobil terbang komersial. (*)
Tags:
aviasi digital
konsep kendaraan masa depan
mobil terbang
regulasi jalan raya
tantangan teknik otomotif
teknologi eVTOL


