Kasus Ajang Lari di Canggu: Saat Warga Negara Asing Lupa Cara Berbaur

kasus-ajang-lari-di-canggu-saat-warga-negara-asing-lupa-cara-berbaur

Klub lari bernama Entourage bikin acara bernama Silent Disco Run di Canggu Bali pada 22 Juli kemarin. Acara itu mendadak ramai dibicarakan karena mereka terang-terangan menolak warga lokal yang mau ikut bergabung. Alasan yang beredar katanya kelompok ini memang dibentuk khusus buat komunitas Digital Nomad.

Lucunya, mereka seolah lupa kalau orang lokal juga banyak yang kerja remote. Istilah "Digital Nomad" mendadak jadi semacam label sakral yang cuma boleh dipakai oleh orang dari luar negeri. Padahal secara teknis, pekerjaannya sama saja, bedanya cuma di isi paspor dan bahasa.

Aturan Eksklusif Buat Orang Luar

Menikmati fasilitas atau bikin tempat usaha di negara orang lain itu wajar dalam dunia bisnis. Namun, bikin aturan yang melarang warga lokal buat ikutan kegiatan publik di daerah mereka sendiri adalah pemikiran yang cukup membingungkan. Lebih heran lagi, ide seperti ini bisa lolos dan benar-benar dijalankan tanpa ada yang merasa ada yang salah sejak awal.

Mereka datang jauh-jauh ke Bali, menikmati keramahannya, memanfaatkan jalannya, lalu memutuskan kalau warga lokal tidak cukup keren buat lari bareng di jalanan yang sama. Standar eksklusivitas seperti ini rasanya agak kelewatan untuk sebuah kegiatan yang cuma melibatkan baju olahraga dan sepatu lari.

Kebiasaan Terlalu Ramah

Di sisi lain, warga Bali sendiri memang terkenal kerap mengagung-agungkan warga asing. Akibatnya warga-warga asing itu seperti ngelunjak.

Ketika ada warga asing yang bikin aturan seenaknya sendiri, warga lokal cenderung diam saja atau memaklumi. Akibatnya ya seperti sekarang ini. Keramahan yang tidak pada tempatnya malah dimanfaatkan oleh warga asing buat bertindak semaunya di tanah orang lain. Kalau dari awal ditindak tegas, cerita seperti ini tidak bakal berulang berkali-kali.

Komunitas yang Membingungkan

Konsep membuat grup khusus warga asing di tengah pemukiman padat Bali sebenarnya sudah aneh dari awal. Kalau tujuannya cuma mau olahraga, tinggal lari saja di jalan raya. Semua orang memakai fasilitas umum yang sama, menghirup udara yang sama, dan menginjak tanah yang sama.

Menambahkan syarat kewarganegaraan buat acara lari santai di negara orang cuma membuktikan satu hal. Komunitas ini sepertinya lebih sibuk mengurusi siapa yang boleh masuk lingkaran mereka daripada fokus pada kegiatan larinya itu sendiri. Sungguh pencapaian yang luar biasa untuk sebuah kelompok yang cuma berniat menggerakkan kaki di pagi hari.

Realita Warga Asing di Bali

Fenomena warga asing yang merasa punya kedudukan lebih tinggi ini bukan cerita baru di Bali. Banyak WNA datang membawa uang, lalu merasa punya hak buat mengatur lingkungan sekitar sesuai selera mereka. Mereka bikin aturan sendiri, eksklusif untuk kelompoknya, dan menganggap warga sekitar cuma penonton di daerahnya sendiri.

Kejadian Silent Disco Run ini cuma salah satu contoh kecil dari tumpukan masalah serupa yang makin sering terjadi. Kalau warga lokal terus-terusan mengalah dan cuma bersikap ramah tanpa berani menegur, kejadian seperti Entourage ini bakal terus bermunculan dengan nama yang berbeda.

Warga asing perlu diingatkan kalau mereka itu cuma tamu yang kebetulan sedang tinggal sementara. Punya bisnis atau komunitas di Bali tidak otomatis membuat seseorang punya hak buat membatasi akses warga lokal di tanah mereka sendiri. 
Lebih baru Lebih lama