Digital Nomad, Expat, dan Imigran. Apa sih Bedanya?

Digital Nomad, Expat, dan Imigran. Apa sih Bedanya

Kasus event lari di Bali kemarin itu sebenarnya cuma contoh kecil dari masalah yang sudah lama ada. Mereka bikin komunitas lari, pakai jalan umum di Bali, tapi melarang warga lokal buat gabung.

Sikap ini bikin banyak orang marah, dan wajar saja. Kamu ada di tanah sendiri, lalu ada sekelompok warga asing yang numpang tinggal di sana, terus mereka bikin aturan sendiri buat membatasi orang lokal ikut kegiatan olahraga sederhana.

Waktu masalah ini makin ramai dibicarakan, perdebatan geser ke istilah-istilah yang sering dipakai warga asing. Ada kata: digital nomad, expat, dan imigran. Tiga kata ini sering dimaknai berbeda, padahal kalau dilihat dari dasarnya, bedanya tidak sejauh itu.

Tiga Kata yang Sengaja Dibeda-bedakan

Mari bahas satu per satu. Pertama, digital nomad. Istilah ini merujuk ke orang yang kerja secara jarak jauh pakai internet sambil berpindah-pindah tempat. Harusnya status mereka ini sementara. Umumnya mereka datang pakai visa turis, kerja dari kafe, lalu pindah lagi kalau izin tinggal habis.

Kedua, kata expat atau ekspatriat. Dulu kata ini dipakai buat pekerja profesional yang dikirim perusahaan luar negeri buat bertugas di negara lain dalam jangka waktu tertentu. Tapi sekarang artinya sudah geser. Orang asing asal negara barat merasa berhak menyebut diri mereka expat, tidak peduli apa pekerjaan mereka atau berapa lama mereka sudah tinggal di sana.

Ketiga, imigran. Secara definisi baku, imigran itu orang yang pindah dari satu negara ke negara lain buat menetap dalam jangka panjang. Tapi di mata para warga asing, kata imigran konotasinya buruk. Mereka merasa kata imigran itu cuma cocok buat orang dari negara berkembang yang pindah ke negara barat buat cari kerjaan.

Soal Kelas Sosial dan Merasa Lebih Unggul

Di sini letak konyolnya. Pemisahan istilah ini sebenarnya cuma bentukan ego dan bias kelas. Warga asing dari negara kaya tidak mau dipanggil imigran karena di negara asal mereka, kata imigran sering dipakai dengan nada negatif.

Di barat, kata imigran sering dipasangkan dengan isu beban sosial, pendatang ilegal, pencari suaka, atau pekerja murah. Jadi waktu mereka pindah ke negara lain seperti Indonesia, mereka menolak label itu. Mereka tidak mau disamakan dengan orang-orang asing yang datang ke negara mereka.

Mereka pilih kata expat karena kata itu terdengar lebih elit. Expat memberi kesan kalau mereka itu tamu kehormatan yang membawa uang, padahal kenyataannya tidak selalu begitu.

Banyak dari mereka yang tinggal bertahun-tahun di sini, buka bisnis tanpa izin yang jelas, tidak bayar pajak lokal, dan memanfaatkan fasilitas umum yang ada. Tapi karena kulit mereka putih atau mereka berasal dari negara maju, mereka merasa punya hak eksklusif buat membedakan diri dari warga lokal.

Kasus klub lari Entourage memperlihatkan bagaimana rasa superioritas ini masuk sampai ke ranah sosial harian. Mereka bikin ruang eksklusif yang tidak boleh dimasuki orang lokal, menganggap jalanan umum di Bali itu milik mereka sendiri.

Kalau ikut definisi baku kependudukan, orang luar yang tinggal lama di suatu negara itu ya imigran. Kalau izin tinggalnya tidak sesuai, ya imigran ilegal. Sederhana sekali. Tapi mereka buat narasi sendiri lewat istilah digital nomad dan expat.
Lebih baru Lebih lama