Apakah Kita Benar-Benar Berada di Kapal yang Sama?


Coba perhatikan gambar itu baik-baik. Di bagian atas, ada sekelompok orang berpakaian rapi, duduk di meja makan menikmati anggur, dan mengobrol santai sambil menikmati angin laut. Di bagian bawah, persis di bawah lantai tempat mereka berpijak, puluhan orang tanpa baju bekerja keras, berkeringat, mendayung kapal agar terus bergerak maju.

Keduanya berada di atas kapal yang sama, mengarungi laut yang sama, dan menghadapi badai yang sama. Tapi apakah pengalaman mereka berada di kapal tersebut sama? Sama sekali tidak.

Gambar ini adalah cerminan paling jujur dari dunia kerja dan organisasi hari ini. Setiap kali ada rapat atau motivasi dari pimpinan, biasanya ada kalimat "kita semua berada di kapal yang sama".

Kata "kita" sering kali digunakan untuk menciptakan kesan bahwa semua orang menanggung beban yang setara, padahal kenyataannya ada pembagian peran dan kenyamanan yang sangat timpang.

Sejarah Panjang Pembagian Peran

Konsep seperti ini sebenarnya bukan hal baru yang diciptakan oleh perusahaan modern. Jika kita melihat sejarah kapal perang Yunani dan Romawi kuno yang disebut trireme, sistem kerja seperti ini sudah dipakai sejak ribuan tahun lalu.

trireme
natgeofe.com
 
Kapal trireme adalah salah satu mesin perang paling canggih pada zamannya. Kapal tersebut bisa berjalan dan bertempur karena dijalankan oleh struktur sosial yang sangat jelas.

Di bagian paling atas ada komandan kapal atau trierarch. Dialah yang menentukan arah, membuat strategi, dan menikmati posisi yang relatif nyaman.

Di tingkat menengah ada pendayung baris atas (thranites) yang setidaknya masih mendapatkan udara segar dan sudut pandang yang agak luas.

Sementara itu, di bagian paling bawah kapal, ada kelompok pendayung paling dasar yang disebut thalamites. Mereka bekerja di ruang gelap, menghirup udara pengap yang sama berulang kali, dan tidak bisa melihat apa pun selain punggung orang di depannya. Mereka tidak tahu kapal sedang menuju ke mana atau apakah ada bahaya di depan. Tugas mereka hanya satu: mendayung tanpa berhenti sesuai ketukan pimpinan.

Orang Romawi menyebut pembagian ini sebagai ketertiban atau order. Dalam bahasa korporat hari ini, kita menyebutnya struktur organisasi.

Cara Manajemen Bekerja

Sistem seperti ini bisa bertahan lama karena satu alasan: ada narasi yang ditanamkan bahwa setiap kontribusi bernilai sama pentingnya.

Di satu sisi, narasi ini memang ada benarnya secara teknis. Kapal tidak akan bisa bergerak jika para pendayung di bawah mendadak berhenti mendayung.

Namun di sisi lain, hubungan kekuasaan di dalam kapal tidak pernah seimbang. Pendayung mungkin memegang kendali atas pergerakan kapal, tetapi komandan di atas yang memegang kendali atas sumber daya. Para pendayung baru bisa makan jika pimpinan memutuskan untuk memberi mereka makan.

Narasi "kita semua satu tim" atau "kita di perahu yang sama" pada dasarnya adalah alat manajemen. Tujuan utamanya adalah menjaga agar orang-orang di lantai bawah tetap bekerja tanpa mempertanyakan posisi mereka.

Realitas Kata "Tim" di Era Modern

Di era modern, istilah yang digunakan memang sudah berubah menjadi lebih halus. Kita tidak lagi menggunakan kata majikan dan babu, melainkan istilah seperti team, colleague, atau family.

Namun secara fungsional, mekanismenya tetap bekerja dengan cara yang serupa dengan kapal trireme.

Ketika perusahaan menghadapi masa sulit, pimpinan sering kali menyerukan agar semua pihak merapatkan barisan dan berkorban demi kelangsungan perahu.

Namun bentuk pengorbanan di setiap lantai perahu sangat berbeda. Bagi mereka yang berada di lantai atas, pengorbanan mungkin berarti penurunan persentase bonus tahunan. Bagi mereka yang berada di lantai bawah, pengorbanan bisa berarti pemutusan hubungan kerja, pemotongan gaji, atau beban kerja ganda tanpa kompensasi.

Kapal tersebut memang bergerak maju menuju tujuan yang ditentukan. Namun tujuan itu hampir selalu ditentukan oleh mereka yang duduk di bagian atas, bukan oleh mereka yang memegang dayung di bawah.

Menghadapi Kenyataan

Memahami realitas ini bukan berarti kita harus menjadi sinis atau berhenti bekerja total. Memahami struktur ini justru penting agar kita memiliki sudut pandang yang jernih terhadap posisi kita sendiri.

Ketika bekerja di sebuah organisasi, penting untuk menyadari posisi kita di dalam perahu tersebut. Jangan tertipu oleh jargon-jargon motivasi yang berusaha menyamakan pengalaman semua orang di dalam kapal.

Misalnya kamu sedang berada di posisi mendayung, kamu bisa menetapkan ekspektasi yang rasional terhadap pekerjaan.

Pekerjaan adalah pertukaran tenaga dan waktu dengan kompensasi yang disepakati. Ketika kamu mendayung, kamu memberikan kontribusi agar kapal bergerak, dan sebagai imbalannya mendapatkan hak (gaji). Hubungan tersebut adalah hubungan profesional, bukan ikatan emosional yang menuntut untuk mengorbankan segalanya demi kapal yang bahkan bukan milik kamu.

Pada akhirnya, kapal akan terus berlayar. Orang-orang di atas akan tetap menikmati pemandangan dan fasilitas mereka, sementara orang-orang di bawah akan tetap menjaga agar kapal tidak berhenti.

Mengetahui perbedaan pengalaman ini membuatmu bisa membedakan mana tanggung jawab pekerjaan yang nyata dan mana sekadar retorika manajemen.

Lebih baru Lebih lama