Lagi scrolling media sosial, mata saya melihat satu postingan yang lewat di beranda. Ada orang menawarkan jasa titip atau jastip nyekar buat mereka yang nggak bisa pulang kampung.
Saya paham, zaman sekarang cari kerja itu susah setengah mati. Apapun memang bakal dilakukan biar jadi cuan. Tapi ya masa sampai urusan begini pun dikomersialkan?Layanan yang ditawarkan sebenarnya cukup lengkap. Mulai dari bersih-bersih rumput liar di sekitar makam, tabur bunga warna-warni biar makam kelihatan segar, sampai kirim doa. Bahkan ada biaya tambahan kalau mau dibacakan surat Yasin.
Semuanya lengkap dengan dokumentasi foto dan video sebagai bukti kalau pesanan sudah dikerjakan. Benar-benar seperti memesan makanan di aplikasi ojek online, bedanya yang ini tujuannya ke alam kubur.
Bisnis Berkedok Ibadah
Menurut pendapat saya loh ya, masih oke lah kalau jasanya cuma sebatas fisik. Maksudnya begini, kalau kita bayar orang untuk babat rumput, merapikan makam atau membersihkan lumut di nisan, itu masuk akal. Itu murni kerja fisik.Membayar orang untuk membelikan bunga dan menaburkannya juga masih normal karena kita memang butuh tenaga orang yang ada di lokasi. Ada keringat yang keluar, ada waktu yang dipakai buat kerja kasar. Itu adil dan patut diapresiasi sebagai bentuk tolong-menolong yang dibayar.
Tapi masalahnya jadi lain cerita kalau yang dijual adalah paket doa. Ini yang bikin saya heran. Sejak kapan hubungan antara hamba, pencipta, dan orang yang sudah meninggal bisa lewat perantara berbayar?
Memaketkan doa dalam daftar harga jasa itu rasanya kok agak kurang pas di hati. Seolah-olah alam kubur itu adalah birokrasi yang hanya bisa ditembus kalau ada perwakilan di lapangan yang sudah dibayar lunas.
Doa Profesional vs Doa Tulus
Logikanya begini aja. Kita mendoakan orang yang sudah tiada itu tujuannya karena sayang dan rindu. Doa itu jalur komunikasi batin. Nah, kalau kita bayar orang asing buat membacakan doa, apa poinnya? Orang yang kita bayar ini belum tentu kenal sama mendiang. Dia nggak punya ikatan emosional apa-apa.Satu-satunya motivasi dia membacakan Yasin atau doa-doa lainnya ya karena ada uang yang masuk ke kantongnya. Kalau transferannya kurang atau belum masuk, apa iya dia bakal mendoakan dengan khusyuk? Tentu saja tidak.
Dia bekerja secara profesional, bukan spiritual. Di sini letak anehnya. Ibadah yang harusnya bersifat privat dan sakral malah berubah jadi transaksi dagang.
Kalau nggak ada bayarannya, mendingan tidur daripada capek-capek komat-kamit di depan nisan orang yang nggak dia kenal.
Jarak Bukan Masalah buat Doa
Orang-orang yang memakai jasa ini biasanya beralasan karena sibuk atau tidak bisa pulang kampung. Terakhir yang saya tahu, yang namanya mendoakan orang meninggal itu tidak ada batasan GPS.Mau kita ada di Jakarta, di luar negeri, atau di kamar tidur sekalipun, doa tetap bisa dipanjatkan. Tidak ada syarat sah doa itu harus diucapkan tepat sepuluh sentimeter di depan makam. Doa itu sifatnya lintas dimensi.
Keluarga sendiri yang mendoakan dari rumah, dengan rasa ikhlas dan air mata yang tulus, itu jauh lebih berharga daripada suara orang asing yang dibayar per sesi.
Tuhan tidak melihat seberapa dekat fisik kita dengan gundukan tanah itu, tapi seberapa tulus niat kita. Kalau alasannya mau pamer di grup keluarga kalau makam sudah "diurus", itu namanya bukan ibadah, tapi cuma mau menggugurkan kewajiban sosial biar nggak dicap durhaka.
Berhenti Menguangkan Sisi Spiritual
Kita perlu belajar membedakan mana yang memang jasa profesional dan mana yang urusan hati. Jangan sampai saking malasnya kita, urusan bicara sama Pencipta pun harus didelegasikan ke orang lain dengan sistem kontrak.Kalau mau bantu ekonomi orang, ya bantu saja. Bayar mereka buat bersihkan makam, itu sudah lebih dari cukup. Tapi jangan seret-seret doa dan ibadah ke dalam daftar belanjaan. Mari biarkan doa tetap menjadi sesuatu yang murni, bukan komoditas yang bisa ditawar.
Bagaimana menurut kamu, apakah saya yang terlalu kaku atau memang dunia ini sudah terlalu berfokus pada cuan sampai lupa batas? (*)
