Saat ini di belahan bumi utara, tepatnya di negara-negara Eropa, penduduknya kepanasan karena suhu melonjak sampai di atas 40 derajat Celsius. Udara di sana kering, karhutla terjadi di mana-mana, dan banyak yang meninggal karena gelombang panas.
Tapi di saat yang sama, di dalam negeri, tepatnya di dataran tinggi Dieng Jawa Tengah, malah membeku. Suhu di sana drop sampai -6 derajat Celsius dan memunculkan fenomena embun upas atau es tipis yang menutupi tanaman.
Dua kejadian yang bertolak belakang ini terjadi di waktu yang bersamaan. Sekilas ini kelihatan aneh atau kontradiktif, seolah-olah atmosfer bumi sedang kacau dan berjalan sendiri-sendiri.
Dua kejadian yang bertolak belakang ini terjadi di waktu yang bersamaan. Sekilas ini kelihatan aneh atau kontradiktif, seolah-olah atmosfer bumi sedang kacau dan berjalan sendiri-sendiri.
Padahal kalau kita melihat mekanisme pergerakan udara dan posisi bumi terhadap matahari, kedua fenomena ini sebenarnya saling terhubung dalam satu sistem besar yang sama. Ini masalah dinamika cuaca global yang memang sedang mencapai puncaknya di bulan-bulan ini.
Kenapa Eropa Bisa Sepanas Itu?
Tapi musim panas yang normal harusnya tidak sampai membuat suhu menembus angka ekstrem yang membahayakan. Ada faktor meteorologi spesifik yang sedang terjadi di atas daratan Eropa sekarang.
Faktor tersebut adalah munculnya sistem tekanan tinggi yang sangat kuat dan statis, atau biasa disebut sebagai heat dome (kubah panas).
Faktor tersebut adalah munculnya sistem tekanan tinggi yang sangat kuat dan statis, atau biasa disebut sebagai heat dome (kubah panas).
Dalam sains atmosfer, area bertekanan tinggi bertindak sebagai penutup. Sistem ini menekan udara di bawahnya ke arah permukaan tanah. Saat udara ditekan ke bawah, udara tersebut mengalami kompresi dan suhunya meningkat secara signifikan.
Sistem tekanan tinggi ini juga menghalau awan untuk terbentuk. Tanpa adanya awan, tidak ada penghalang bagi sinar matahari untuk langsung membakar permukaan bumi dari pagi sampai malam.
Selain masalah tekanan tinggi dan absennya awan, arah angin juga berpengaruh besar. Di atas benua Eropa, sedang terjadi pergeseran arus angin (jet stream) yang membuat udara panas dari Gurun Sahara di Afrika Utara dengan mudah bertiup ke arah utara menuju Spanyol, Prancis, Italia, hingga negara-negara di Eropa Tengah.
Selain masalah tekanan tinggi dan absennya awan, arah angin juga berpengaruh besar. Di atas benua Eropa, sedang terjadi pergeseran arus angin (jet stream) yang membuat udara panas dari Gurun Sahara di Afrika Utara dengan mudah bertiup ke arah utara menuju Spanyol, Prancis, Italia, hingga negara-negara di Eropa Tengah.
Udara kering dan panas dari gurun ini terjebak di bawah sistem tekanan tinggi tadi, menciptakan kondisi panas ekstrem yang bertahan selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu tanpa jeda hujan.
Dieng Membeku Karena Langit yang Terlalu Bersih
Di saat Eropa terpanggang, wilayah Indonesia, khususnya yang berada di selatan garis khatulistiwa seperti Pulau Jawa, sedang berada di tengah musim kemarau.
Bagi yang tinggal di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, musim kemarau artinya suhu udara terasa gerah dan kering di siang hari. Tapi cerita di dataran tinggi seperti Dieng sangat berbeda karena faktor topografi dan mekanika pelepasan panas di atmosfer.
Dieng berada di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut. Secara hukum fisika, makin tinggi suatu tempat, tekanan udaranya makin rendah dan suhunya makin dingin. Tapi penentu utama munculnya embun upas atau es di Dieng adalah fenomena yang disebut radiational cooling atau pendinginan radiatif yang terjadi secara ekstrem pada malam hari.
Selama musim kemarau, kelembapan udara di Indonesia menurun drastis karena bertiupnya angin monsun tenggara dari benua Australia. Australia saat ini sedang mengalami musim dingin, sehingga angin yang ditiupkan ke arah Indonesia bersifat kering dan dingin. Karena udara sangat kering, langit di atas Dieng menjadi sangat bersih tanpa ada tutupan awan sedikit pun sejak sore hingga malam hari.
Pada siang hari, permukaan tanah di Dieng menyerap panas dari matahari. Ketika malam tiba, permukaan tanah akan melepaskan kembali panas tersebut ke atmosfer dalam bentuk radiasi gelombang panjang.
Dieng berada di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut. Secara hukum fisika, makin tinggi suatu tempat, tekanan udaranya makin rendah dan suhunya makin dingin. Tapi penentu utama munculnya embun upas atau es di Dieng adalah fenomena yang disebut radiational cooling atau pendinginan radiatif yang terjadi secara ekstrem pada malam hari.
Selama musim kemarau, kelembapan udara di Indonesia menurun drastis karena bertiupnya angin monsun tenggara dari benua Australia. Australia saat ini sedang mengalami musim dingin, sehingga angin yang ditiupkan ke arah Indonesia bersifat kering dan dingin. Karena udara sangat kering, langit di atas Dieng menjadi sangat bersih tanpa ada tutupan awan sedikit pun sejak sore hingga malam hari.
Pada siang hari, permukaan tanah di Dieng menyerap panas dari matahari. Ketika malam tiba, permukaan tanah akan melepaskan kembali panas tersebut ke atmosfer dalam bentuk radiasi gelombang panjang.
Jika langit banyak awan, panas yang dilepaskan ini akan tertahan oleh awan dan dipantulkan kembali ke bumi, sehingga suhu udara di permukaan tetap hangat. Namun karena langit di atas Dieng bersih total tanpa awan, panas dari tanah langsung lepas ke luar angkasa tanpa ada yang menghalangi.
Proses hilangnya panas secara masif ini membuat suhu permukaan tanah di Dieng turun drastis dengan sangat cepat dari malam hingga menjelang pagi.
Proses hilangnya panas secara masif ini membuat suhu permukaan tanah di Dieng turun drastis dengan sangat cepat dari malam hingga menjelang pagi.
Ditambah lagi, Dieng memiliki topografi berbentuk cekungan atau lembah yang dikelilingi pegunungan. Udara dingin yang memiliki massa lebih berat daripada udara hangat akan turun dan mengendap di dasar cekungan tersebut.
Akibatnya suhu di permukaan tanah bisa turun sampai di bawah 0 derajat Celsius. Uap air yang ada di udara di sekitar permukaan tanah dan tanaman langsung mengalami kondensasi ekstrem dan berubah wujud menjadi kristal es tanpa sempat menjadi air terlebih dahulu.
Benang Merah dari Kedua Fenomena Ini
Kalau ditarik kesimpulan dari kedua kejadian ini, semuanya bermuara pada satu hal: posisi semu matahari dan dampaknya pada sirkulasi angin global.Di bulan Juli, matahari berada di belahan bumi utara. Hal ini memicu musim panas ekstrem di Eropa akibat kombinasi tekanan tinggi dan pasokan udara panas dari Afrika. Di saat yang sama, belahan bumi selatan mengalami musim dingin, yang angin dinginnya bergerak ke utara melewati Indonesia, membawa udara kering yang memicu pendinginan radiatif ekstrem di tempat-tempat tinggi seperti Dieng.
Fenomena ini sebenarnya adalah siklus tahunan yang biasa terjadi. Perbedaannya, intensitas kedua fenomena ini belakangan ini terasa makin ekstrem. Pemanasan global menaikkan suhu rata-rata atmosfer bumi, yang membuat sistem tekanan tinggi di Eropa menjadi lebih persisten dan lebih panas dari dekade-dekade sebelumnya.
Fenomena ini sebenarnya adalah siklus tahunan yang biasa terjadi. Perbedaannya, intensitas kedua fenomena ini belakangan ini terasa makin ekstrem. Pemanasan global menaikkan suhu rata-rata atmosfer bumi, yang membuat sistem tekanan tinggi di Eropa menjadi lebih persisten dan lebih panas dari dekade-dekade sebelumnya.
Sementara di Dieng, perubahan pola iklim membuat musim kemarau menjadi jauh lebih kering di periode tertentu, yang memperbesar peluang terjadinya pendinginan radiatif maksimal pada malam hari.
Jadi panasnya Eropa dan bekunya Dieng adalah dua sisi dari satu koin yang sama, yaitu dinamika atmosfer bumi yang sedang merespons perubahan energi matahari secara global.
Tags:
cuaca ekstrem global
fenomena embun upas dieng
gelombang panas eropa
penyebab heatwave eropa
perubahan iklim dunia
suhu minus dieng


