Wacana Bahasa Prancis di Sekolah: Kebijakan Pendidikan vs Basa-Basi Diplomasi

Wacana Bahasa Prancis di Sekolah

Rencana memasukkan bahasa Prancis ke dalam kurikulum wajib sekolah rasanya mirip dengan memoles tampilan luar agar terlihat keren di mata dunia, padahal di dalam rumah sendiri masih banyak urusan dasar yang berantakan dan belum selesai.

Urusan Dasar yang Belum Beres

Kita bisa melihat langsung kualitas kemampuan anak-anak sekarang. Banyak anak sekolah yang kalau diajak bicara atau membaca instruksi sederhana saja masih sering salah paham. Kemampuan berhitung dasar mereka juga sering kali lambat.

Berdasarkan data Tes Kompetensi Akademik (TKA) tahun 2025/2026 untuk tingkat SMA, potretnya memang nyata:

Bahasa Indonesia: 55,38
Matematika: 36,10
Bahasa Inggris: 24,93

Tes Kompetensi Akademik

Nilai-nilai ini bukan cuma angka di atas kertas, tapi cerminan nyata di kehidupan sehari-hari. Nilai bahasa Inggris yang sudah jadi pelajaran wajib sejak lama saja rata-ratanya sangat rendah.

Kalau kemampuan bahasa Indonesia dan matematika dasar saja belum beres, ditambah bahasa Inggris yang masih ketinggalan, buat apa menambah beban baru dengan bahasa Prancis?

Kebutuhan Riil Anak Muda Sekarang

Kalau kita bicara soal masa depan anak-anak, kita harus realistis melihat ke mana arah tujuan mereka setelah lulus. Anak-anak muda yang punya kesempatan atau cita-cita kuliah ke luar negeri mayoritas memilih negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris, seperti Australia, Malaysia, Singapura, atau Amerika Serikat. Pilihan lainnya adalah negara-negara di Asia yang ekonominya kuat seperti Jepang, Korea dan Tiongkok.

Jarang sekali ada yang sengaja mengincar Prancis sebagai tujuan utama untuk mencari kerja atau kuliah, kecuali untuk kasus-kasus yang sangat spesifik.

Jadi memaksakan semua anak di Indonesia untuk mempelajari bahasa yang jarang mereka gunakan di masa depan rasanya menjadi langkah yang kurang efisien dan buang-buang waktu.

Cari Gurunya di Mana?

Bayangkan jika aturan ini diterapkan di seluruh sekolah di Indonesia yang jumlahnya ratusan ribu. Dari mana kita bisa mendapatkan ratusan ribu guru bahasa Prancis dalam waktu singkat?

Kenyataan yang kita lihat di kampung-kampung atau di sekolah negeri sekitar rumah saja sudah jelas: sekolah-sekolah kita masih sering kekurangan guru untuk mata pelajaran utama seperti matematika, sains, atau guru kelas.

Banyak posisi kosong yang tidak bisa diisi karena aturan rekrutmen yang ketat. Menambah mata pelajaran wajib baru hanya akan membuat pihak sekolah pusing mencari pengajar yang kompeten, dan ujung-ujungnya pelajaran tersebut tidak akan berjalan maksimal.

Masalah Gaji dan Pilihan Karier

Kita semua tahu bahwa menjadi guru di Indonesia, terutama yang belum berstatus ASN, bukanlah profesi yang menjanjikan secara finansial. Gaji guru honorer di banyak daerah masih sangat memprihatinkan, sering kali hanya berkisar antara Rp200.000 hingga Rp300.000 per bulan.

Sekarang coba posisikan diri kita sebagai anak muda yang kuliah di jurusan bahasa asing. Setelah lulus dengan kemampuan bahasa Prancis yang baik, pilihan mana yang paling masuk akal diambil? Menjadi guru honorer dengan gaji minim, atau mencari pekerjaan lain yang jauh lebih menghasilkan?

Tentu saja mereka akan memilih menjadi penerjemah, pemandu wisata untuk turis asing, bekerja di perusahaan swasta, atau mengincar posisi di kedutaan.

Lapangan kerja di luar dunia pendidikan jauh lebih menarik secara materi. Akibatnya, stok orang yang ahli bahasa asing dan mau mengajar di sekolah umum akan selalu sedikit.

Jadikan Kegiatan Luar Kelas Saja

Bagi siswa yang memang punya minat khusus pada kebudayaan Eropa, ruang untuk belajar sebenarnya sudah ada di beberapa sekolah lewat jalur mata pelajaran pilihan.

Daripada mewajibkannya untuk semua siswa, solusi yang paling masuk akal bagi masyarakat adalah menjadikannya sebagai kegiatan ekstrakurikuler atau klub bahasa.

Dengan cara ini, semua pihak diuntungkan:
  • Anak yang memang tertarik atau berencana kuliah ke Eropa bisa mendapatkan wadahnya di sekolah.
  • Anak-anak lain yang masih kesulitan dengan pelajaran dasar tidak perlu ditambah beban pikirannya dengan hafalan kosakata baru yang rumit.
  • Sekolah tidak perlu pusing mencari guru tetap dalam jumlah besar, karena bisa bekerja sama dengan lembaga kursus atau pengajar lepas sesuai jumlah siswa yang berminat.
Kita harus mulai belajar untuk menyelesaikan masalah dari yang paling mendasar terlebih dahulu, ketimbang sibuk menambahkan hal-hal baru yang sifatnya cuma pajangan luar agar terlihat keren. (*)
Lebih baru Lebih lama