Ada pernyataan menggelitik dari orang-orang yang dianggap “hebat” di negeri ini. Katanya, orang desa tidak perlu cemas saat dollar Amerika Serikat melonjak mendekati delapan belas ribu rupiah. Alasannya orang desa tidak memakai dollar buat belanja di warung. Ada juga yang menimpali kalau dollar itu cuma urusan orang kaya yang hobi jalan-jalan ke luar negeri.
Mendengar logika seperti ini rasanya seperti melihat orang yang santai saat bagian belakang mobilnya terbakar, hanya karena dia duduk di kursi depan. Pemikiran ini keliru besar dan berpotensi membuat masyarakat salah paham tentang cara kerja uang.Analogi
Mari kita bedah cara kerja nilai tukar mata uang ini dengan cara yang paling sederhana, seperti menjelaskan kepada anak sekolah dasar.Bayangkan seluruh negara di dunia ini sedang bermain di sebuah pasar malam yang besar. Di pasar malam ini, setiap negara membawa koin mereka sendiri. Indonesia membawa koin merah bernama rupiah, dan Amerika Serikat membawa koin hijau bernama dollar.
Masalahnya, pengelola toko mainan terbesar di pasar malam itu hanya mau menerima koin hijau. Kalau kita mau beli barang dari toko itu, kita harus menukarkan koin merah kita dengan koin hijau terlebih dahulu.
Dulu, kita cukup menyerahkan empat belas ribu koin merah untuk mendapatkan satu koin hijau. Sekarang, karena koin hijau sedang langka atau banyak yang butuh, si pemilik koin hijau meminta jatah lebih banyak.
Kita harus menyerahkan delapan belas ribu koin merah hanya untuk mendapatkan satu koin hijau yang sama. Ini yang dinamakan pelemahan rupiah. Uang kita nilainya menyusut di mata dunia.
Alasan Tempe Punya Paspor Amerika Serikat
Sekarang kita lihat hubungannya dengan warga desa yang katanya aman dari badai dollar ini. Banyak orang mengira makanan seperti tahu dan tempe diproduksi sepenuhnya di dalam negeri tanpa campur tangan asing.Ini adalah kesalahan fatal. Bahan baku utama tahu dan tempe adalah kedelai, dan sebagian besar kedelai yang kita konsumsi itu diimpor dari Amerika Serikat.
Para importir membelinya dari petani Amerika menggunakan dollar. Ketika harga satu dollar naik menjadi delapan belas ribu rupiah, importir otomatis harus mengeluarkan rupiah jauh lebih banyak untuk membeli jumlah kedelai yang sama.
Biaya tambahan ini tidak mungkin ditanggung sendiri oleh importir. Mereka akan menaikkan harga jual kedelai kepada pengrajin tahu tempe di daerah.
Pengrajin yang kebingungan akhirnya punya dua pilihan, mengecilkan ukuran tempe menjadi setipis kartu ATM atau menaikkan harganya. Jadi, walaupun lidah kita sangat lokal, perut kita sebenarnya sangat bergantung pada situasi di Washington.
Ayam yang Ikut Bergaya Internasional
Nasib yang sama menimpa ayam dan telur di pasar tradisional. Ayam-ayam yang diternakkan di desa tidak sekadar makan rumput atau sisa makanan dapur. Mereka mengonsumsi pakan pabrikan yang komponen pembuatannya, seperti bungkil kedelai atau vitamin tertentu, didatangkan dari luar negeri.Proses pengiriman pakan ini juga membutuhkan bahan bakar. Harga minyak dunia dipatok menggunakan dollar. Ketika dollar mengamuk, biaya produksi pakan ayam melonjak. Peternak terpaksa menaikkan harga ayam dan telur agar tidak gulung tikar.
Yang berniat membeli telur untuk lauk harus membayar lebih mahal. Mereka terkena dampak dollar tanpa pernah menyentuh fisik uang dollar.
Traktor dan Pupuk yang Terjebak Nilai Tukar
Mari kita melangkah ke sawah, tempat yang dianggap paling jauh dari hiruk-pikuk ekonomi global. Petani membajak sawah menggunakan traktor. Mesin traktor tersebut dibuat di pabrik luar negeri, dan suku cadangnya harus diimpor. Ketika ada komponen traktor yang rusak, harganya pasti naik mengikuti kurs dollar.Pupuk yang digunakan untuk menyuburkan padi juga mengandung bahan kimia yang tidak semuanya diproduksi di dalam negeri.
Saat bahan baku pupuk naik karena dollar menguat, biaya menanam padi otomatis membengkak. Hasilnya, harga gabah dan harga beras di pasar ikut terkerek naik. Orang desa yang memakan beras hasil bumi sendiri pun akhirnya harus membayar lebih mahal untuk biaya produksinya.
Ilusi Dompet Tebal tapi Keranjang Kosong
Fenomena ini memicu hal yang sering disebut penurunan daya beli. Jumlah uang di dalam dompet kita tidak berkurang secara nominal. Lembaran uang Rp100.000 tetap berwarna merah dan bergambar pahlawan yang sama. Namun keajaiban magisnya hilang.Jika dahulu uang seratus ribu rupiah bisa membawa pulang satu kantong penuh belanjaan berisi minyak goreng, telur, dan bumbu dapur, sekarang uang yang sama hanya bisa mendapatkan setengahnya.
Ini seperti membeli jajanan keripik di supermarket yang bungkusnya kembung besar, tetapi saat dibuka isinya hanya sedikit dan sisanya adalah angin. Kita tidak kehilangan uang, kita hanya kehilangan kemampuan uang tersebut untuk membeli barang.
Jaring Tak Terlihat yang Mengikat Kita Semua
Ekonomi modern tidak bekerja secara terpisah-pisah. Semua sektor terhubung oleh jaring-jaring tak terlihat yang berpusat pada dollar sebagai mata uang perdagangan global.Mengatakan bahwa kenaikan dollar hanya berdampak pada orang kaya atau orang kota adalah pernyataan yang tidak berdasar pada realitas lapangan.
Orang kaya mungkin menunda membeli mobil mewah atau gadget baru saat dollar naik. Namun bagi masyarakat kecil, kenaikan dollar bisa berarti pengurangan porsi makan atau kesulitan membayar biaya sekolah anak akibat harga barang pokok yang merangkak naik.
Kita semua berada di kolam yang sama, dan saat airnya bergejolak, semua ikan di dalamnya akan merasakan dampaknya, tidak peduli seberapa kecil ikan tersebut. (*)
Tags:
dampak dollar naik
daya beli masyarakat
ekonomi sederhana
kurs dollar rupiah
Nilai Tukar Rupiah
penyebab harga naik
